26 Agustus 2019

Tips Memerah saat Bekerja

Kenapa sih saat sedang berjauhan dengan bayi, ibu tetap harus mengosongkan payudara? Riweh banget.

Eh, jangan dulu bilang riweh kalau belum tau plus dan minusnya. Jadi gini, ASI itu kan sistemnya supply and demand. ASI akan diproduksi dengan membaca 'bahasa' tubuh, yakni dengan mendeteksi apakah payudara sudah kosong atau masih terisi. Kalau payudara sudah kosong, kelenjar ASI akan memproduksi ASI lagi. Kalau payudaranya masih penuh, ASI nggak akan diproduksi. Nah, akibat jangka panjangnya adalah, volume ASI yang dihasilkan akan semakin sedikit jumlahnya. Selain itu, kalau payudara penuh tapi nggak segera dikosongkan, para ibu menyusui pasti tau lah ya sakitnya kayak gimana. Bengkak, panas dan nyeri. Udah paling bener kalau langsung dikosongin deh.

Setelah tiga bulan cuti pasca melahirkan, ibu bekerja yang menyusui biasanya dihadapkan pada persoalan baru. "Gimana nih caranya supaya payudara tetep bisa dikosongin saat berjauhan dengan si bayi?", karena ya nggak memungkinkan juga kan kalau si bayi dibawa sambil bekerja, apalagi kerja kantoran. Jadi, satu-satunya jalan adalah dengan memompa ASI keluar.

Sumber: Pinterest

Kalau pakai pompa ASI, istilahnya dikenal dengan pumping. Kalau dengan tangan kosong, istilahnya marmet (merah pakai tangan). Ini istilahnya kudapat dari mak marmet @rennatapranata. Hihi. Jadi, ngga ada tuh istilah ngga bisa ngosongin payudara karena alat pompa itu mahal. Jangan lupa, Allah menciptakan tangan untuk kita dengan sejuta fungsinya.



Aku adalah seorang ibu pekerja yang harus berangkat dari rumah jam 6 pagi dan pulang jam 3 sore. Kantorku ada di sekolah. Nah, dalam waktu selama itu saat berjauhan dengan bayi, aku tetep harus pumping dong. Kalau temen-temen pernah baca bahwa pumping itu harus rutin per 2 jam, aku menganut paham pumping per 3 jam. Beda dikit gapapa ya. Prinsipku sih ASIku nggak berlebih nggak apa-apa, yang penting cukup untuk anakku.

Alasan aku pumping per 3 jam karena anakku kan sekarang udah 5 bulan. Jeda waktu dia mau minum itu biasanya hampir per 3 jam sekali, jadi kusamain aja deh polanya. Selama 5 bulan ini aku hampir jarang banget pergi sendiri dengan ninggalin anakku di rumah. Alhamdulillah setelah cuti resmi 3 bulan, masih ketambahan libur Idul Adha dan libur kenaikan kelas hampir 2 bulan, jadi anakku hampir nggak pernah minum ASI dari media yang lain alias selalu direct breastfeeding. Sedikit kekhawatiran dimulai ketika aku meninggalkannya di rumah untuk mulai kerja, anakku belum mau minum banyak. Dalam sehari dia paling mentok mau 70ml doang. Terus, anakku juga cuma mau ASIP fresh yang belum masuk freezer alias emaknya harus kejar tayang tiap hari. Aku kudu bye bye sama stok ASIP di freezer :( Yang penting, stok untuk hari esok harus ready hari ini. Gitu aja. Jadi, buatku, cukup lah dengan pumping per 3 jam selama aku kerja.

Alasan kedua, aku bisa nyempetin pumping cuma pas jam istirahat aja. Nggak mungkin pumping di kelas juga kalau jam ngajar berderet-deret. Cukup di stirahat pertama jam 10, istirahat kedua jam 12. Atau kadang mblandang-mblandang dikit lah yang penting harus ada waktu untuk mompa.

Nah, agar pumping di tempat kerja tetap terasa nyaman, aku mau berbagi kerempongan share beberapa tips dan barang bawaan aku kalau berangkat kerja. Cekidot~

Bawaan tambahan segambreng. Demi si cinta <3 td="">

1. Tempat
Aku ngajar di 2 sekolah saat ini. Di sekolahku yang pertama, aku pumping di ruang guru. Eh serius buuuuu? Iya bener. Sekolahku nggak ada ruang laktasi, dan menurutku jauh lebih mendingan di ruang guru daripada di kamar mandi. Ye kan?

Soal bapak-bapak guru yang ada di sana, Alhamdulillah mereka sekarang udah biasa sih. Pas awal-awal ya aku juga agak ragu kalau pumping di ruang guru, secara ya itu kegiatan yang hampir belum pernah dilakukan di ruang guru sebelum aku saat ini, terus bapak-bapak suka lewat sambil nanya. Ya aku jelasin aja seperlunya. Menurutku wajar sih ya ibu menyusui lagi pumping tuh. Toh tertutup juga, nggak diumbar-umbar. Dan juga hampir semua bapak guru sudah berkeluarga dan punya anak. Jadi ya biasa aja harusnya~

Di sekolahku yang satu lagi aku dapet amanah untuk jaga lab. Jadi, pumpingnya bener-bener di ruang privat dan berAC. Nyaman banget. Ngga ada komplain lah ini. Prinsipku sih selama tempatnya bersih dan nyaman, nggak ada masalah pumping di situ.

2. Pompa
Untuk pumping, terutama di ruang guru kayak aku gitu, aku nggak rekomen pumping pake pompa manual atau marmet. Mendingan pake pompa elektrik. Tapi kalau ada ruang laktasi khusus, pakai pompa manual atau marmet sekalian malah gapapa. Kan ga bakal ada bapak-bapak yang sliwar sliwir masuk. Kalau milih pompa elektrik, banyak kok pompa elektrik yang harganya terjangkau. Tangan leluasa bisa sambil ngerjain yang lain (kalo aku biasanya sambil makan, haha), dan nggak perlu terlalu terumbar-umbar lah.

Sedikit tips dari aku nih. Pompa ASI itu cocok-cocokan. Sebelum memutuskan untuk membeli pompa ASI, ada baiknya nyoba dulu dengan menyewa selama sebulan. Karena ada lho pompa elektrik yang suaranya kasar, sedotannya sakit, menuh-menuhin tas, berat, dan sebagainya. Termasuk ada juga yang suaranya halus, pemakaiannya gampang, sparepartnya juga gampang dicari, enteng, dan lain-lain. Aku sekarang pakai Spectra 9+, dan Alhamdulillah cocok karena nggak berisik, enteng dan nggak menuh-menuhin tempat. Eits, tapi cocok di aku belum tentu cocok di kalian ya.

3. Apron
Apron penting banget. Kalau nggak bawa, bubar sudah acara mompa ASI, haha. Nggak bisa akutu kalo cuma ditutupin pake kerudung. Tapi jenisnya opsional aja. Intinya yang bisa buat nutupin dada selama pumping. Aku cuma pakai selimut bayi yang ada jepitannya di bagian ujung, jadi bisa ku jepit di belakang leher, sementara bagian depannya terurai sampai bawah perut. Teman sekantorku bahkan hanya pakai jaket, dan aku juga pernah cuma pakai jaket.

4. Wadah ASIP
Fungsinya untuk menampung ASIP yang sudah diperah. Ini bisa berbentuk botol kaca atau plastik ASIP. Biasanya aku pakai plastik ASIP yang ukuran 100ml karena emang hasil pumpingku selalu ngepas aja, ga sampe yang tumpeh-tumpeh, jadi sedikit eman kalau harus beli yang ukuran besar. Awalnya aku menghindari botol kaca, pertama karena aku males cuci sterilnya, kedua karena takut pecah pas dibawa-bawa. Tapiiiiii, dikarenakan anakku hanya mau minum ASIP fresh, dimana ngga sampe masuk freezer, itu kantong ASIP akhirnya cuma kepake sehari terus harus dibuang T.T. Plis lah berapa banyak sampah plastik yang kusebabkan karena itu? Akhirnya sekarang aku ngalahi untuk lebih rajin cuci steril botol kaca. Demi bumi tempat tinggalku satu-satunya ini~

Oiya, kalau tep masih butuh plastik ASIP ini banyak yang jual kok, jadi bukan plastik kiloan biasa buat wadah es dawet gitu yaa. Tersedia berbagai merk dan kapasitas. Tinggal sesuaikan dengan kebutuhan dan ketebalan dompet kalian aja, hehehe.

5. Makanan dan minuman
Ini penting banget sih buatku, haha. Pumping bikin lapar. Dan waktu yang aku miliki cuma sebentar untuk pumping. Jadi, biasanya aku pumping sambil makan. Jadi, dua kegiatan bisa selesai bersamaan. Anak-anak di kelas menanti beb~

6. Ice Gel/Ice Pack

Fungsinya untuk mendinginkan perangkat pompa dan ASI yang udah selesai diperah. Aku biasanya cuma bawa satu ice gel beku dari rumah.

Tips lagi. Pompa ASI nggak perlu cuci setiap kali habis dipakai. Kalau di kantor, biasanya habis selesai dipakai langsung kutaruh plastik dan dimasukkan cooler bag. Kalau di rumah, setelah dipakai langsung masuk plastik atau wadah yg tutupnya rapat, terus masuk chiller. Nyuci perintilannya per 24 jam sekali dan biasanya setelah bangun tidur.

7. Cooler Bag
Fungsinya untuk bawa perangkat pompa (bukan mesin pompanya ya) dan ASIP yang sudah masuk wadah. Dengan dimasukkan ke cooler bag yang masih ada ice gel bekunya, ASIP bisa bertahan sampai 24 jam. Sedangkan di suhu ruang, ASIP hanya bisa bertahan maksimal 4 jam.

Setelah rutin pumping di tempat kerja, Alhamdulillah produksi ASI masih stabil. Bisa mencukupi kebutuhan anakku. Kuncinya hanya satu: JANGAN MALES. Kadang, rasanya kayak, "Ah nanti aja deh pumpingnya..", tapi percayalah kalau rasa malas itu dituruti, dia akan ngelunjak. Haha. Nggak perlu takut untuk pumping sambil bekerja. Bahkan saat acara outing sama temen-temen kantor, aku tetep berusaha pumping walaupun harus curi-curi tempat dan waktu. Asal ada waktu senggang, aku langsung mlipir cari tempat. Bahkan di bis yang berjalan pun pernah! Ya, demi anak tercinta, apa aja rela ku lakukan.

Oiya, untuk panutanku dalam menyusui, aku biasa buka instagramnya @olevelove dan @rennatapranata. Mereka berdua ibu menyusui yang juga bekerja.Kalian bisa buka profilnya kalau butuh insight lebih lengkap dan jelas tentang menyusui.






Part 1/2. . Ini pertanyaan yg sering bgt ditanyakan ke aku dan biasanya nih jadi alasan "males pumping" krna hasilnya dikit alasannya krna pake BP engkol alias manual #eeeaaa. . Wait, sblum aku lanjutken, takut banyak yg blm paham apa itu BP. BP itu adalah breast pump alias mesin pompa syusyu yak. Bukan pemain sepak bola atau penyenyong lagunya si lumba2 wkwkw #mukegile 🤣. Ya abisnya ada loh yang nge DM nanya BP itu apa 😜. . OK baek kta coba bahas ya. . Sbnernya BP itu ccok2an ya. Ga bisa dijadikan patokan kalo BP mahal itulah yg terbaik dan bisa jadikan hasil perah jadi banyak. . TAPI... tentunya yg membedakan harga BP A dengan BP B pastinya di kekuatan mesinnya. Simple nya kan kalo BP mahal pastinya mesinnya jga bagus, mesin bagus pastinya punya keunggulan bsa lebih mengoptimalkan pengosongan payudara toh. Payudara cpt kosong ya pastinya jga cpt ngisi lagi dan produksinya makin meningkat, ya duit emang ga bodoh sih. . TAPI (lagi) kya yg aku bilang jga, ccok2an. BP mahal jga di mak A blm tentu bsa dptin hasil perah yg banyak dibanding sama si mak B yg masih ngengkol atau pake BP manual harga 100rb an. Krna again ya, koentji hasil pumping banyak adalah di LDR atau Let Down Reflexs yg mau baca dan pelajari LDR ini bsa check #ldrmakmarmet. . Sejjurnya akutu jga malah ga nyaman pake BP ya, susah ga bisa, makanya mending pake tangan sndiri 🤭😂. Dan kalo alasan krna pake BP nya manual alias ngengkol makanya hasilnya ga maksimal trus jdi ga mau pumping lagi krna sakit ati hasilnya dikit itu salah besar kakak. Krna BP itu butuh kebiasaan supaya tau selahnya. Dan asi jga prinsip nya supply by demand. Demand banyak tbuh bakal produksi banyak. Demand dikit tubuh produksi dikit. Demand ga ada ga bakalan ada produksi. Jadi pumping bertujuan banyakin asi bukan krna asi udh banyak produksi #catet. . Belajar pake BP yg bener dlu, kalo ngengkol ya kudu engkol tipis2 dlu buat datengin LDR, kalo udh dpt LDR silahkan engkol sedalem mungkin dan secepat mungkin, pegel... Ya iyalah namanya jga ngengkol wkwk. . . Bersambung di part 2 ya.. . . #pejuangasi #mamaperah #mamakbauasi #pumping #marmet #perahtangan #mamaperahbekerja #tipsasimakmarmet
A post shared by Rennata Hartati Pranata (@rennatapranata) on


Tips lainnya bisa diilihat disini:
Sumber: loveliliya.com

Sumber: notapowercouple.com


Buat ibu menyusui yang bekerja, tetap semangat ya! 

18 Juli 2019

Kenapa Melahirkan di Puskesmas?

M.H.A ❤
Perjalanan kehamilan diakhiri dengan proses persalinan. Persalinan bisa dilakukan dimanapun, baik di sarana kesehatan, bahkan ada juga yang memilih untuk melahirkan di rumah. Dari sekian banyak pilihan tempat melahirkan, bulan Februari lalu akhirnya aku memilih untuk melahirkan di sebuah puskesmas di wilayah Magelang, Jawa Tengah. Mungkin sedikit cerita ini bisa menjadi insight bagi calon ibu yang masih bingung untuk memilih tempat bersalin.

Oiya, disclaimer dulu ya. Ini murni berbagi pengalaman pribadi. Perbedaan layanan di masing-masing Puskesmas bisa saja terjadi. Tapi kalau berminat untuk melahirkan di puskesmas yang sama denganku, boleh tanya-tanya lebih lanjut ya!

Here we go!

Pertama, selama kehamilan, sejujurnya aku belum punya bayangan sama sekali akan melahirkan dimana. Dokter tempatku kontrol tiap bulannya tidak melayani persalinan di tempat beliau praktik (di rumahnya) karena beliau juga praktik di rumah sakit yang cukup besar di Yogyakarta. Pandangan awalku adalah, aku ingin melahirkan di tempat yang dekat dengan rumah. Jadi, setiap ditanya, aku hanya menjawab "di Bidan". Setelah diskusi dengan keluarga, akhirnya sempat diputuskan untuk rencana melahirkan di bidan dekat rumah (kebetulan memang ada, dan kakak iparku juga melahirkan di sana). Oiya, aku memang tidak berencana melahirkan di rumah sakit ya dari awal. Alhamdulillah, kandunganku tidak ada indikasi medis yang berbahaya pada waktu itu. Tapi ternyata ada second opinion, kakak iparku menawarkan supaya melahirkan di puskesmas tempatnya bekerja. Pertama kali mendengar tawaran melahirkan di puskesmas, aku sempat ragu, kayak yang, "Ntar kalo di puskesmas nyaman nggak ya?"

Kakak iparku menepis kekhawatiranku dengan mengatakan bahwa tempat bersalin di puskesmas tempatnya bekerja sangat nyaman karena terpisah dari bangunan puskesmas utama. Kemudian hanya ada satu ranjang, jadi malah seperti kamar VIP kalau di rumah sakit. Nah, ketika tiba saatnya aku melahirkan di sana, pertama kali aku datang dengan kondisi sudah kontraksi yang cukup intens. Masuk ke ruangannya, Alhamdulillah memang betul terasa nyaman. Bersih, luas, dan nakesnya fokus untuk membantu persalinanku saja. Jadi, konsentrasiku nggak terpecah, tetap fokus, nggak terganggu dengan pasien lain dan mengganggu pasien lain juga.

Kedua, bidannya pro gentle birth. Setelah bayi keluar, ibu dan bayi dikasih kesempatan IMD. Duh aku terharu kalo inget momen yang ini. Tiba-tiba di atas dadaku ada bayi mungil merangkak mencari minuman pertamanya. Terus, nggak main gunting perineum juga. Epis akan dilakukan kalau kita minta deh kayaknya. Jadi, para nakes ini membiarkan kelahiran berjalan sealami mungkin. Mereka juga teman kerja kakak iparku, jadi untuk komunikasi lebih enak. Mereka bener-bener berusaha untuk bikin aku nyaman dan nggak trauma. Terlebih di persalinan kemaren aku lumayan heboh cerewet dan payah banget nafasnya karena lemes. Nggak yang marah-marahin ibu bersalinnya misal gara-gara nafas nggak bener, dll. Kontrol nifas dan bayi juga lebih enak dan santai. Padahal kontrol nifas itu kadang masih bikin aku trauma, dengkul tegang banget pokoknya. Haha.

Ketiga, ruangan persalinan yang super nyaman dan fasilitas lengkap plus Ambulance. Jadi, tempat persalinannya itu sebetulnya rumah dinas yang nggak dipakai. Di dalam ruangan persalinan ada AC juga. Kerasa kayak di tempat VIP juga karena di dalam ruangan itu kasurnya cuma ada satu. Terus kalo tetiba ada indikasi medis yang gawat, Ambulance juga siap sedia. Jadi, jangan khawatir ya. Udah ada SOPnya juga dan bisa dibaca siapapun termasuk ibu yang melahirkan. Ini aku sempet baca juga sih, tapi karena selama melahirkan aku gak pegang HP sama sekali yaa nggak ada foto deh. Hehe.

Keempat, minim orang nggak dikenal. Yang belum ku kenal di ruangan itu cuma 3 bidan. Lainnya ya suami dan keluarga. Kalau di rumah sakit atau rumah bersalin kan bisa terintervensi sama suara orang melahirkan di bed sebelah. Alih-alih bikin tenang, malah bikin khawatir pas dia teriak kesakitan. Orangnya juga banyak yang nggak dikenal. Ada dokter SPOG, dokter anak, suster, bahkan kadang koas. Buatku pribadi, kurang nyaman.

Kelima, nggak perlu rawat inap. Malamnya persalinan, pagi sudah boleh pulang dan istirahat di rumah. Yeeeeeey~ "Loh, udah bisa jalan emang?". Udah kok. Udah buang air juga malahan. Yakali semaleman ngga pipis padahal minumnya lumayan banyak. Asal udah dicek lagi beberapa jam setelah melahirkan dan memang tidak ada indikasi medis, boleh langsung pulang.  

Keenam, muraaaaaah. Hehe. Seluruh tindakan yang aku terima saat persalinan di puskesmas menghabiskan biaya nggak sampai 1 juta lho tanpa BPJS! Ini kejadian gapake BPJS terjadi karena BPJS baru aktif tanggal 14 Februari, sementara anakku lahir tanggal 13 Februari jam 23.05. Hahaha. Emaknya udah ga kuat nahan karena anaknya juga udah kebelet keluar. 

Menurutku, puskesmas bisa jadi pilihan tempat melahirkan juga kok. Tapi ya yang jelas pastikan dulu fasilitas puskesmasnya kayak gimana. Kalau biasa kontrol di dokter, minimal sekali lah kontrol di puskesmas sambil tanya-tanya soal fasilitas persalinannya gimana. 

Lokasi puskesmas:


Menjadi Ibu Baru part. 1

Mengantarmu melihat dunia. Sumber: Unsplash

Ada banyak kisah dalam setiap proses persalinan. Entah itu kelahiran pervaginam atau caesar. Cukup bulan atau prematur. Posisi normal atau sungsang. Proses yang waktunya singkat atau butuh waktu berhari-hari. Banyak orang bilang kalau melahirkan caesar itu enak karena tidak merasakan sakit. Mungkin memang iya, tapi setelah biusnya habis? Banyak yang bilang bahwa dengan melahirkan normal  barulah seorang wanita bisa dikatakan sebagai ibu sejati. Buatku, no. Sama. Setiap proses kelahiran itu memiliki kenikmatannya masing-masing dan sama mulianya. Setelah mengalami rasanya melahirkan, aku bisa bilang bahwa dari awal kehamilan sampai pasca melahirkan adalah tentang mendewasakan diri dan menerima diri ini apa adanya.

Ada yang sudah afirmasi dari A-Z supaya persalinan normal pervaginam, tapi di ujung kehamilan yang sudah bukaan sekian berhari-hari akhirnya juga harus cesar. Yang pervaginam pun sama. Sudah afirmasi supaya bisa melewati kontraksi dengan baik dan tidak adanya robekan di perineum, ternyata juga tetap menjerit dan butuh jahitan di perineum. Gradenya gede lagi, sampe nakesnya bilang, "Wah, robeknya berantakan banget ini bu..". Semua usaha dan do'asudah dilakukan, tapi semua keputusan akhir ada di tangan Tuhan. 

Setelah perjuangan melahirkan selesai, apakah perjuangan lainnya selesai juga? Oooo, tentu tidak. Yang paling menjadi beban pikiran sebagian ibu pasca persalinan adalah, "Apakah setelah melahirkan, tubuh bisa kembali seperti semula saat sebelum hamil?"

Pasca persalinan, perut masih akan terlihat besar seperti sedang hamil 4 bulan. Bedanya, kondisi perut sekarang berkerut. Jelas. Selama 9 bulan kulit meregang seiring dengan besarnya kehamilan, tiba-tiba menyusut karena isinya sudah tak ada lagi. Belum lagi stretch mark yang menghiasi sekeliling perut. Ditambah, bagi yang melahirkan pervaginam akan merasakan rasa tidak nyaman dan takut untuk buang air di beberapa minggu awal. Rasa takut jahitan akan lepas atau nyeri yang tiba-tiba muncul, atau merasakan perasaan yang lain akibat bentuk yang kini berbeda. Bagi yang melahirkan cesar, rasa sakit di bekas jahitan yang katanya masih sering terasa sakit meskipun sudah melahirkan bertahun-tahun, belajar bagaimana caranya duduk, berdiri, berjalan, mengurus bayi dan bahkan mengurus diri-sendiri.

Belum lagi mengubah kebiasaan sehari-hari. Yang mulanya setiap hari bisa tidur nyenyak dari jam 9  malam sampai subuh, kini harus bangun setiap 2 atau 3 jam untuk menyusui. Air susu yang di awal kadang belum keluar, flat nipple, puting lecet, payudara bengkak akan menghiasi hari-hari awal. Yang tadinya bisa nonton drama korea di depan laptop berjam-jam, kini waktunya bisa saja berkurang drastis.

Di proses itulah kita harus belajar menerima diri sendiri. Menerima perubahan fisik yang mungkin tak bisa kembali, maupun perubahan psikis berkaitan dengan mood dan lain-lain. Kalau diri kita sendiri belum bisa menerima, kupikir rasanya akan susah untuk dijalani. Untuk itu, new mom memang harus diberikan support penuh dari orang-orang disekitar, terutama suami. Karena yang paling dekat secara emosional selain ibu kandung biasanya adalah suami.

Ada sedikit pesan nih. Plis lah, kalau menjenguk new mom, biarkan dia banyak bercerita dan jangan terlalu banyak menasehati dan bertentangan pendapat. Kan dia yang baru melahirkan, bukan kamu.

Bercerita soal persalinan tak akan ada habisnya. Tiap aku baca cerita orang-orang yang melahirkan, pasti merebes mili terharu pengen nangis. Kalo kata netijen, "Postingan ini mengandung bawang". Tapi aku suka. Aku bahagia melihat kelahiran, aku bahagia melihat sepasang kekasih yang akhirnya menjadi orang tua. Selepas ini, masih ada proses mengASIhi sampai anak berusia 2 tahun berikut dengan cerita seru dibaliknya. Mungkin nanti aku bakal cerita tentang hal itu. Jadi, kusudahi dulu ya postingan ini. Sampai ketemu di tulisan selanjutnya!

***