18 Juli 2019

Kenapa Melahirkan di Puskesmas?

M.H.A ❤
Perjalanan kehamilan diakhiri dengan proses persalinan. Persalinan bisa dilakukan dimanapun, baik di sarana kesehatan, bahkan ada juga yang memilih untuk melahirkan di rumah. Dari sekian banyak pilihan tempat melahirkan, bulan Februari lalu akhirnya aku memilih untuk melahirkan di sebuah puskesmas di wilayah Magelang, Jawa Tengah. Mungkin sedikit cerita ini bisa menjadi insight bagi calon ibu yang masih bingung untuk memilih tempat bersalin.

Oiya, disclaimer dulu ya. Ini murni berbagi pengalaman pribadi. Perbedaan layanan di masing-masing Puskesmas bisa saja terjadi. Tapi kalau berminat untuk melahirkan di puskesmas yang sama denganku, boleh tanya-tanya lebih lanjut ya!

Here we go!

Pertama, selama kehamilan, sejujurnya aku belum punya bayangan sama sekali akan melahirkan dimana. Dokter tempatku kontrol tiap bulannya tidak melayani persalinan di tempat beliau praktik (di rumahnya) karena beliau juga praktik di rumah sakit yang cukup besar di Yogyakarta. Pandangan awalku adalah, aku ingin melahirkan di tempat yang dekat dengan rumah. Jadi, setiap ditanya, aku hanya menjawab "di Bidan". Setelah diskusi dengan keluarga, akhirnya sempat diputuskan untuk rencana melahirkan di bidan dekat rumah (kebetulan memang ada, dan kakak iparku juga melahirkan di sana). Oiya, aku memang tidak berencana melahirkan di rumah sakit ya dari awal. Alhamdulillah, kandunganku tidak ada indikasi medis yang berbahaya pada waktu itu. Tapi ternyata ada second opinion, kakak iparku menawarkan supaya melahirkan di puskesmas tempatnya bekerja. Pertama kali mendengar tawaran melahirkan di puskesmas, aku sempat ragu, kayak yang, "Ntar kalo di puskesmas nyaman nggak ya?"

Kakak iparku menepis kekhawatiranku dengan mengatakan bahwa tempat bersalin di puskesmas tempatnya bekerja sangat nyaman karena terpisah dari bangunan puskesmas utama. Kemudian hanya ada satu ranjang, jadi malah seperti kamar VIP kalau di rumah sakit. Nah, ketika tiba saatnya aku melahirkan di sana, pertama kali aku datang dengan kondisi sudah kontraksi yang cukup intens. Masuk ke ruangannya, Alhamdulillah memang betul terasa nyaman. Bersih, luas, dan nakesnya fokus untuk membantu persalinanku saja. Jadi, konsentrasiku nggak terpecah, tetap fokus, nggak terganggu dengan pasien lain dan mengganggu pasien lain juga.

Kedua, bidannya pro gentle birth. Setelah bayi keluar, ibu dan bayi dikasih kesempatan IMD. Duh aku terharu kalo inget momen yang ini. Tiba-tiba di atas dadaku ada bayi mungil merangkak mencari minuman pertamanya. Terus, nggak main gunting perineum juga. Epis akan dilakukan kalau kita minta deh kayaknya. Jadi, para nakes ini membiarkan kelahiran berjalan sealami mungkin. Mereka juga teman kerja kakak iparku, jadi untuk komunikasi lebih enak. Mereka bener-bener berusaha untuk bikin aku nyaman dan nggak trauma. Terlebih di persalinan kemaren aku lumayan heboh cerewet dan payah banget nafasnya karena lemes. Nggak yang marah-marahin ibu bersalinnya misal gara-gara nafas nggak bener, dll. Kontrol nifas dan bayi juga lebih enak dan santai. Padahal kontrol nifas itu kadang masih bikin aku trauma, dengkul tegang banget pokoknya. Haha.

Ketiga, ruangan persalinan yang super nyaman dan fasilitas lengkap plus Ambulance. Jadi, tempat persalinannya itu sebetulnya rumah dinas yang nggak dipakai. Di dalam ruangan persalinan ada AC juga. Kerasa kayak di tempat VIP juga karena di dalam ruangan itu kasurnya cuma ada satu. Terus kalo tetiba ada indikasi medis yang gawat, Ambulance juga siap sedia. Jadi, jangan khawatir ya. Udah ada SOPnya juga dan bisa dibaca siapapun termasuk ibu yang melahirkan. Ini aku sempet baca juga sih, tapi karena selama melahirkan aku gak pegang HP sama sekali yaa nggak ada foto deh. Hehe.

Keempat, minim orang nggak dikenal. Yang belum ku kenal di ruangan itu cuma 3 bidan. Lainnya ya suami dan keluarga. Kalau di rumah sakit atau rumah bersalin kan bisa terintervensi sama suara orang melahirkan di bed sebelah. Alih-alih bikin tenang, malah bikin khawatir pas dia teriak kesakitan. Orangnya juga banyak yang nggak dikenal. Ada dokter SPOG, dokter anak, suster, bahkan kadang koas. Buatku pribadi, kurang nyaman.

Kelima, nggak perlu rawat inap. Malamnya persalinan, pagi sudah boleh pulang dan istirahat di rumah. Yeeeeeey~ "Loh, udah bisa jalan emang?". Udah kok. Udah buang air juga malahan. Yakali semaleman ngga pipis padahal minumnya lumayan banyak. Asal udah dicek lagi beberapa jam setelah melahirkan dan memang tidak ada indikasi medis, boleh langsung pulang.  

Keenam, muraaaaaah. Hehe. Seluruh tindakan yang aku terima saat persalinan di puskesmas menghabiskan biaya nggak sampai 1 juta lho tanpa BPJS! Ini kejadian gapake BPJS terjadi karena BPJS baru aktif tanggal 14 Februari, sementara anakku lahir tanggal 13 Februari jam 23.05. Hahaha. Emaknya udah ga kuat nahan karena anaknya juga udah kebelet keluar. 

Menurutku, puskesmas bisa jadi pilihan tempat melahirkan juga kok. Tapi ya yang jelas pastikan dulu fasilitas puskesmasnya kayak gimana. Kalau biasa kontrol di dokter, minimal sekali lah kontrol di puskesmas sambil tanya-tanya soal fasilitas persalinannya gimana. 

Lokasi puskesmas:


Menjadi Ibu Baru part. 1

Mengantarmu melihat dunia. Sumber: Unsplash

Ada banyak kisah dalam setiap proses persalinan. Entah itu kelahiran pervaginam atau caesar. Cukup bulan atau prematur. Posisi normal atau sungsang. Proses yang waktunya singkat atau butuh waktu berhari-hari. Banyak orang bilang kalau melahirkan caesar itu enak karena tidak merasakan sakit. Mungkin memang iya, tapi setelah biusnya habis? Banyak yang bilang bahwa dengan melahirkan normal  barulah seorang wanita bisa dikatakan sebagai ibu sejati. Buatku, no. Sama. Setiap proses kelahiran itu memiliki kenikmatannya masing-masing dan sama mulianya. Setelah mengalami rasanya melahirkan, aku bisa bilang bahwa dari awal kehamilan sampai pasca melahirkan adalah tentang mendewasakan diri dan menerima diri ini apa adanya.

Ada yang sudah afirmasi dari A-Z supaya persalinan normal pervaginam, tapi di ujung kehamilan yang sudah bukaan sekian berhari-hari akhirnya juga harus cesar. Yang pervaginam pun sama. Sudah afirmasi supaya bisa melewati kontraksi dengan baik dan tidak adanya robekan di perineum, ternyata juga tetap menjerit dan butuh jahitan di perineum. Gradenya gede lagi, sampe nakesnya bilang, "Wah, robeknya berantakan banget ini bu..". Semua usaha dan do'asudah dilakukan, tapi semua keputusan akhir ada di tangan Tuhan. 

Setelah perjuangan melahirkan selesai, apakah perjuangan lainnya selesai juga? Oooo, tentu tidak. Yang paling menjadi beban pikiran sebagian ibu pasca persalinan adalah, "Apakah setelah melahirkan, tubuh bisa kembali seperti semula saat sebelum hamil?"

Pasca persalinan, perut masih akan terlihat besar seperti sedang hamil 4 bulan. Bedanya, kondisi perut sekarang berkerut. Jelas. Selama 9 bulan kulit meregang seiring dengan besarnya kehamilan, tiba-tiba menyusut karena isinya sudah tak ada lagi. Belum lagi stretch mark yang menghiasi sekeliling perut. Ditambah, bagi yang melahirkan pervaginam akan merasakan rasa tidak nyaman dan takut untuk buang air di beberapa minggu awal. Rasa takut jahitan akan lepas atau nyeri yang tiba-tiba muncul, atau merasakan perasaan yang lain akibat bentuk yang kini berbeda. Bagi yang melahirkan cesar, rasa sakit di bekas jahitan yang katanya masih sering terasa sakit meskipun sudah melahirkan bertahun-tahun, belajar bagaimana caranya duduk, berdiri, berjalan, mengurus bayi dan bahkan mengurus diri-sendiri.

Belum lagi mengubah kebiasaan sehari-hari. Yang mulanya setiap hari bisa tidur nyenyak dari jam 9  malam sampai subuh, kini harus bangun setiap 2 atau 3 jam untuk menyusui. Air susu yang di awal kadang belum keluar, flat nipple, puting lecet, payudara bengkak akan menghiasi hari-hari awal. Yang tadinya bisa nonton drama korea di depan laptop berjam-jam, kini waktunya bisa saja berkurang drastis.

Di proses itulah kita harus belajar menerima diri sendiri. Menerima perubahan fisik yang mungkin tak bisa kembali, maupun perubahan psikis berkaitan dengan mood dan lain-lain. Kalau diri kita sendiri belum bisa menerima, kupikir rasanya akan susah untuk dijalani. Untuk itu, new mom memang harus diberikan support penuh dari orang-orang disekitar, terutama suami. Karena yang paling dekat secara emosional selain ibu kandung biasanya adalah suami.

Ada sedikit pesan nih. Plis lah, kalau menjenguk new mom, biarkan dia banyak bercerita dan jangan terlalu banyak menasehati dan bertentangan pendapat. Kan dia yang baru melahirkan, bukan kamu.

Bercerita soal persalinan tak akan ada habisnya. Tiap aku baca cerita orang-orang yang melahirkan, pasti merebes mili terharu pengen nangis. Kalo kata netijen, "Postingan ini mengandung bawang". Tapi aku suka. Aku bahagia melihat kelahiran, aku bahagia melihat sepasang kekasih yang akhirnya menjadi orang tua. Selepas ini, masih ada proses mengASIhi sampai anak berusia 2 tahun berikut dengan cerita seru dibaliknya. Mungkin nanti aku bakal cerita tentang hal itu. Jadi, kusudahi dulu ya postingan ini. Sampai ketemu di tulisan selanjutnya!

***

20 Juni 2019

Cerita Kehamilan: Persalinan Luar Biasa

Sumber: Photo by Janko Ferlič on Unsplash
Hm, sebelum baca postingan yang ini, diklik dulu ya lagunya. Nanti kamu bisa baca sambil dengerin lagu ini :)



13 Februari 2019

Rabu pagi, hari ketiga cuti.
Bangun tidur aku beraktifitas seperti biasa. Sholat subuh, mengisi perut, kemudian tidur-tiduran sebentar alih-alih jalan pagi yang sangat baik untuk ibu hamil di trimester tiga sepertiku. Hari itu aku tak berencana pergi kemana-mana karena ada pekerjaan yang harus aku selesaikan sebelum makin mendekati HPL.

Kira-kira pukul delapan pagi.
Aku asyik mengolah gambar di depan PC suamiku. Satu gambar, dua gambar, masih seperti biasa. Tiba-tiba aku merasakan kemunculan sebuah rasa yang sudah hampir 9 bulan ini tidak aku rasakan. Mulas seperti akan haid. Kala itu usia kandunganku sudah 38 minggu 4 hari. Seketika aku langsung menebak bahwa, “Oh, inikah yang disebut orang-orang dengan kontraksi?”. Masih menduga-duga karena hari-hari sebelumnya tidak terasa ada sesuatu yang lain, termasuk tanda melahirkan berupa flek.

Awalnya biasa saja. Aku masih asyik berkutat dengan pekerjaanku. Setiap rasa itu datang, kucoba mengatur nafasku agar nyerinya sedikit berkurang dan bisa kukendalikan. Sambil kucatat waktu mulai, waktu berakhir serta interval kemunculannya. Ah, masih belum teratur ternyata. Kadang lima menit, kadang sepuluh menit sekali. Pokoknya masih belum teratur. Dari literatur yang kubaca, hal seperti ini disebut kontraksi palsu (braxton hicks).

Semakin siang, ternyata kontraksinya tidak hilang. Tak ingin diam saja, aku masih sempat berjalan-jalan keliling rumah sambil mempersiapkan hospital bag yang belum kusentuh sama sekali (Plis ini jangan ditiru ya teman..). Perlengkapan persalinan, baju bayi, popok, selimut, sampai baju ganti untukku langsung kumasukkan ke dalam tas. Suamiku ikut membantu. Ia kemudian membuatkanku segelas susu dan menyuruhku agar istirahat. Aku merasa masih kuat sekalipun kontraksinya juga tetap muncul dan hilang kapanpun ia mau. Bahkan, aku sempat ditinggal suamiku kurang lebih 1 jam untuk mengambil kendaraan di rumah mertuaku.

Jam tiga sore, interval masih belum teratur.
Kendaraan siap, perlengkapan bayi dan aku juga siap. Setelah suamiku memberi kabar kepada keluarga di Kalibawang, ibu mertua dan kakak iparku segera menyuruhku berangkat ke puskesmas tempatku akan melahirkan. Kupikir, “Ah nanti saja. Toh ini masih kontraksi palsu. Belum 5-1-1. Pasti belum ada bukaan”. Informasi tentang persiapan melahirkan banyak sekali kudapat dari instagram @bidankita, banyak juga cerita dari orang-orang yang membagikan pengalaman persalinannya. Jadi, aku tidak terlalu khawatir dan memang mempersiapkan diri agar tidak cemas berlebihan. Berangkat ke tempat bersalin saat sudah “siap” juga untuk menghindari intervensi berlebihan dari tenaga kesehatan yang akan membantu persalinan yang bisa menyebabkan ibu dan bayi trauma. Walaupun aku sendiri punya argumen, ternyata keberangkatan ke puskesmas tidak bisa ditunda, kami tetap harus berangkat. Mbak iparku bilang agar kandunganku bisa diperiksa terlebih dahulu.

Aku setuju. Selama kehamilan, aku belum pernah memeriksakan kandunganku di puskesmas tempatku akan bersalin. Jadi, untuk pemeriksaan ini kupikir akan baik jika kulakukan.

Perjalanan ke puskesmas kurang lebih 15 menit melewati Jalan Magelang yang lumayan ramai. Aku masih bisa bercanda dengan suamiku. Saat kontraksi datang, masih kucoba untuk tetap mengendalikan diriku sendiri. Walaupun terkadang tetap mengaduh-aduh kesakitan.

Puskesmas Ngluwar, VT pertama.
VT adalah Vaginal Touch. Dilakukan untuk memeriksa bukaan yang terjadi pada jalan lahir bayi di persalinan normal. Dari namanya, sepertinya tak perlu kugambarkan bagaimana prosesnya ya. Yang jelas, bidan disana bilang, sakitnya baru 1/100 nya dari melahirkan. Yang penting saat melakukan VT adalah rileks, dan kalau bisa tidak dilakukan sering-sering. Paling tidak 4 jam sekali. Kenapa? Karena rasanya memang kurang nyaman. Ah, rasanya aku tidak ingin mengingat kembali rasanya ini.

Ternyata, seperti dugaanku. Belum terjadi pembukaan dan kontraksinya masih berupa kontraksi palsu karena belum terjadi setiap lima menit sekali, selama satu menit. Sehingga, belum bisa dipastikan kapan akan terjadi kelahiran. Bisa nanti malam, bisa besok hari, atau lusa. Akhirnya, kami pamit pulang ke rumah. Aku berusaha agar tetap rileks sekalipun kontraksinya tetap muncul dan hilang. Sepanjang perjalanan pulang yang ditemani hujan deras, aku dan suamiku menyempatkan mampir di tempat makan mie ayam favorit kami. Mood booster katanya. Supaya tetap kenyang dan tetap tenang.

Sampai di rumah, aku kembali istirahat. Karena semua perlengkapan sudah siap, tak ada lagi yang aku kerjakan selain menikmati setiap gelombang cinta itu datang. Menjelang maghrib, interval nya semakin rapat. Sudah mulai terasa mulas seperti ingin BAB. Kugunakan waktu yang ada untuk ke belakang karena. Di literatur yang kubaca, jalan lahir itu menekan usus besar dan kandung kemih. Jadi, biasanya kedua tempat penyimpanan hasil eksresi dan defekasi itu dikosongkan lebih dulu agar jalan lahir bisa terbuka.

Selepas maghrib, gelombang cinta makin intens. Perutku terasa kencang dan mulas semakin menjadi-jadi. Kuatur nafasku walaupun terkadang sampai harus merintih kesakitan. Aku mencoba tetap tersenyum walaupun tingkat sakitnya sudah lebih tinggi dari sebelumnya. Selain mulas, perutku juga terasa mual ingin muntah. Setelah memperhatikan catatan waktu kontraksi, akhirnya selepas isya kami berangkat kembali ke puskesmas. Selain ditemani suami, aku meminta tanteku agar turut menjagaku saat di perjalanan. Sepanjang perjalanan kututup mataku sambil berdoa, tetap mencoba tersenyum dan atur nafas ketika gelombang cinta muncul tiap lima menit sekali. Berusaha untuk tetap tenang dan tidak mengaduh-aduh, selain agar diriku tetap tenang, juga agar suamiku tetap konsentrasi menyetir. Perut dan punggungku diusap-usap tanteku sepanjang jalan. Aku tidak sabar ingin bertemu belahan jiwaku, dan kurasa diapun begitu.

Sampai di puskesmas, sudah ada ayah ibu mertuaku, kakak iparku, keponakanku serta tenaga kesehatan yang akan membantu proses persalinanku malam itu. Ruangan sudah siap. Nah, kenapa aku memilih di puskesmas, nanti akan kujelaskan pada tulisan yang lain.

Aku langsung diminta tidur di ruang bersalin, kemudian dilakukan lagi VT. Ternyata sudah bukaan 5. Setengah perjalanan lagi sebelum total bukaan. Pada saat itu, gelombang cinta semakin intens dan kuat, dorongan ingin mengejan sangat kuat tapi aku dilarang mengejan agar jalan lahir tidak bengkak. Kucoba atur nafasku, yaaa, walaupun terkadang diselingi jeritan-jeritan (yang setelah proses lahiran selesai, tanteku bilang sebenarnya ia ingin tertawa mendengar celotehanku saat menjerit).

Kala itu di ruangan bersalin aku ditemani suamiku, kakak iparku, tante serta ibu mertuaku yang tak lelah mendoakan serta menyuapiku makanan serta minuman. Agar badanku kuat saat nanti mengejan, aku harus makan dan minum yang cukup. Tapi karena aku menahan sakit, beberapa kali aku juga muntah dalam jumlah yang cukup banyak. Beberapa kali aku juga meminta agar Bu Bidan memeriksa lagi bukaan pada jalan lahir karena rasanya seperti sudah ada yang mau keluar. Tapi ternyata baru bukaan 7. Posisi bayi sudah masuk panggul tetapi serviksnya masih cukup tebal, kata bu bidan.

Huuuf, sabar-sabar... Sabar ya nak. Anak pintar, seperti afirmasiku padanya agar mencari jalan lahir yang membuat dia dan diriku nyaman.

Jam 22.00.
Akhirnya bukaan lengkap juga setelah aku sempat mengejan saking tidak kuatnya aku menahan. Padahal sudah kucoba untuk mengatur nafas, berganti posisi dari miring kiri menjadi duduk, istighfar, membaca do’a dan mencoba mengalihkan pikiran dari rasa sakit. Setelah bukaan lengkap, aku dipersiapkan untuk mengejan. Saat kontraksi terasa dan perut mengeras, kutarik nafasku dan mulai mengejan sekuat tenaga. Nafas habis, kuulangi lagi. Begitu sampai beberapa kali.

Belum keluar juga. Ayo adek, bantu ibu nak..

Afirmasi selama hamil agar perineumku tetap utuh ternyata gagal. Karena mengangkat bokong, jalan lahirnya mengalami robek yang cukup ‘berantakan’. Bahkan, di tengah jalan ketika mengejan dan kepala bayi sudah nyaris keluar, aku nyaris menyerah karena sakit yang sungguh nikmat. Namun aku juga tak sabar ingin segera bertemu dengan bayi kecil yang sudah kubawa kemanapun aku pergi selama 9 bulan kebelakang.

Jam 23.05
Satu kali mengejan yang terakhir, bayi kecilku keluar bersamaan dengan suara tangis yang memecah ketegangan malam itu. Seorang bayi laki-laki dengan berat 3,5 kg dan panjang 50 cm lahir ke dunia yang fana ini. Ucapan syukur dan tangis haru memenuhi ruangan. Aku menatap suamiku, seolah mengatakan bahwa 'Aku sudah lega, Mas..'. Segera setelah itu, inisiasi menyusui dini dilakukan. Seorang bayi kini merangkak di atas dadaku, mencari minuman pertamanya di dunia ini. Kuusap kepala dan punggungnya. Haru. Tetes air mata tidak dapat lagi dibendung. Sayangnya tak cukup lama karena ada bagian dari plasenta yang nampaknya masih tersisa di dalam rahimku sehingga harus dikeluarkan. Jangan tanya prosesnya, karena itu juga rasanya luar biasa.

Sungguh sayang sekali, aku tidak sempat mendengar suamiku mengadzani dan iqamah di kedua telinga anak kami. Perjuanganku belum selesai.

Lelah, lapar, mengantuk, tapi belum bisa istirahat. Akibat proses persalinan yang membuat jalan lahirku robek, aku perlu mendapat jahitan yang cukup banyak. Grade 2. Rasanya? Walaupun sempat dibius, pada akhirnya aku tetap menangis karena tak kunjung selesai. Pukul 02.30, barulah segala proses persalinanku selesai dan aku bisa beristirahat.

Begitu selesai, bidan yang menolongku berkata, “Habis ini minta maaf ya sama ibu..”. Apa daya, malam itu tak kudapati ibu kandungku berada disisiku. Kami hanya sempat video call sebentar ketika aku sedang dijahit. Kini ku tahu bagaimana rasanya. Dan betapa durhakanya aku ketika aku menyakiti perasaan ibuku, ketika aku tau rasanya bagaimana bertaruh nyawa di meja persalinan. 

Jika kamu bertanya bagaimana rasanya?
Bahagia, penuh syukur dan terharu. Sepanjang kehamilan, entah kenapa aku tidak terbayang-bayang ketakutan akan kelahiran normal pervaginam yang orang-orang bilang sangat sakit. Kuisi kehamilanku dengan rasa bahagia, kegiatan dan afirmasi positif setiap hari. Instagram @bidankita banyak sekali memberi informasi bagaimana agar proses kehamilan dan melahirkan menjadi tidak menyeramkan. Tentang mengatur nafas, memperbanyak pengetahuan tentang posisi bayi dan jalan lahirnya, sampai proses persalinan dan pasca persalinan. Selain itu, Alhamdulillah perkembangan janinku baik dan tidak ada yang perlu dikhawatirkan.

Pada setiap proses persalinan tidak hanya melahirkan bayi baru ke dunia ini, tetapi juga melahirkan seorang ibu dan ayah baru. Aku bersyukur suamiku selalu mendampingi mulai dari proses kehamilan sampai seluruh tindakan selesai. Yang mengurus urusan rumah tangga, yang memastikan aku selalu makan makanan yang baik, yang membelikanku ini itu supaya aku tetap merasa baik, yang bersedia mengantarku kesana kemari, yang kuremas dan kutarik bajunya saat kontraksi berlangsung. Bahkan sampai setelah aku selesai melahirkan, kuyakin yang lelah dan lapar tak hanya aku, suamiku juga.

Adek, terima kasih sudah menjadi teman berjuang yang kompak selama sembilan bulan ini. Ibu harap kekompakan kita tidak berakhir ketika kamu keluar dari rahim ibu ya, Nak. Kita harus kompak sampai kapanpun. Ketika nanti mungkin dunia sedang tak baik padamu, jalan pulang menujuku masih tetap terbuka lebar. Sholih ya, Nak. Love you my son 

Melahirkan, apapun dan bagaimanapun prosesnya, tetaplah penuh dengan perjuangan. Setelah ini masih akan ada hari-hari yang perlu dinikmati sebagai sepasang orang tua baru. Kami mohon do’a agar kami dapat membimbing anak kami sebaik-baiknya, serta mohon do'a anak kami menjadi anak sholih, berbakti kepada kedua orang tua, bermanfaat bagi sekitarnya dan selalu bahagia.

Aamiin 

Total 14 jam dari awal kontraksiku sampai anakku lahir di dunia ini. Ada yang bilang sebentar, ada juga yang bercerita bahwa waktu yang lebih cepat pun ada. Sudahlah, tak perlu diperdebatkan. Semua proses melahirkan itu sam mulianya. 

Jika ada teman pembaca yang ingin sharing pengalaman atau bertanya, boleh untuk meninggalkannya di kolom komentar.
Terima kasih sudah membaca ˙˚ʚ(´◡`)ɞ˚˙