17 Maret 2017

Lokasi Kunjungan Industri tahun 2017

Sore ini akhirnya bisa rebahan di kasur setelah tiga hari dua malam gue habiskan dengan duduk di kursi bus yang membawa gue dan rombongan guru plus anak-anak di sekolah tempat gue ngajar ke beberapa tempat di sekitaran Jakarta - Bekasi. Bukan buat main ke tempat wisata, tapi mengunjungi beberapa lokasi industri atau di dunia SMK disebutnya Kunjungan Industri (KI), etapi nggak SMK doang sih, dulu gue kuliah pas semester 3 juga ada KI ke Bogor. Rombongan yang berangkat ada 3 bus, dua bus pertama diisi guru pendamping dan siswa jurusan Teknik Kendaraan Ringan (TKR), bus terakhir diisi guru pendamping dan siswa jurusan Teknik Komputer Jaringan (TKJ). Nah, gue di bus terakhir. Tebak, gue gurunya apa anak-anaknyaaa? *ngaca peh, ngacaa.

Berangkat dari Kulon Progo hari Selasa (14/3) sore lewat jalur tengah, rombongan transit buat ishoma di Purwakarta jam 4.00 pagi besok harinya. Nah, sampai di sini rombongan bakal kepisah. Yang jurusan TKR bakal ke pabrik Suzuki di Cikarang, sedangkan rombongan TKJ bakal ke PT. Berca Cakra di Sunter. Nah, karena gue ngikut yang TKJ, jadi ceritanya bakal lebih banyak tentang apa yang gue lakukan di tempat KI TKJ.

Setelah menembus kemacetan di tol Cikampek dan mulai masuk Jakarta, ternyata mencari PT. Berca Cakra itu nggak gampang karena lokasinya nggak ada di pinggir jalan besar, alias harus agak masuk gang yang lumayan sempit walaupun di sekitar PT itu juga ada beberapa perusahaan lain yang notabene banyak truk keluar masuk. Dari luar juga nggak keliatan kalau itu perusahaan yang bakal dikunjungi karena sejauh mata memandang, gue pun nggak ngeliat ada papan namanya. Sebelum berangkat sempet denger-denger kalau perusahaan yang bakal dikunjungi itu adalah perusahaan produsen komputer. Tapi gue masih belum ngeh sampai akhirnya gue dan rombongan masuk ke perusahaan tersebut dan dikumpulkan di ruang meeting. Sayangnya gue sama sekali nggak inget siapa-siapa aja yang menyampaikan informasi di sana. Yang jelas, setelah penyampaian maksud dan tujuan kami ke sana, kami dibagi jadi dua kelompok. Kelompok pertama dengerin teori dulu, sementara kelompok kedua ke tempat perakitan dulu.

Nah, setelah dijelaskan panjang lebar, ternyata PT. Berca Cakra Teknologi itu awalnya distributor vendor perangkat komputer dari berbagai merk, kek misal Compact, HP, Acer dll sekitar tahun 2010an. Karena Cuma jadi distributor, mesti nurut lah sama regulasi dari pihak asing. PT. Berca Cakra ini juga pengen mandiri, jadi selanjutnya mereka melakukan proses perakitan PC di perusahaan tersebut dan membuat merk sendiri yang diberi nama Relion. PT. Berca Cakra Cuma melakukan proses perakitan seluruh komponennya, namun tidak melakukan produksi komponen karena di Indonesia belum ada pabrik komponennya.

PT. Berca Cakra Teknologi sendiri punya banyak cabang di Pulau Jawa, diantaranya di Jogja dan Semarang. Sementara kantor pusatnya ada di Tanah Abang, Jakarta. PT. Berca Cakra juga melakukan kerja sama dengan beberapa perusahaan lain, salah satunya dengan ACER dalam bidang pelayanan after sales (service center). PT. Berca Cakra juga sudah mengantongi sertifikat ISO 9001 (Manajemen mutu), ISO 18001 (Manajemen lingkungan hidup), dan ISO 14001 (Kesehatan dan Keselamatan Kerja). Deuuuh kalo ngomongin soal ISO, jadi inget jaman bersusah-susah nguji kualitas software pake standar ISO *kibas skripsi

Ternyata, PT. Berca Cakra ini adalah perusahaan yang dipercaya oleh pemerintah dalam bidang pendidikan untuk menjadi penyuplai PC yang digunakan untuk SMK se Indonesia. Ini salah satu pendukung berlangsungnya Ujian Nasional Berbasis Komputer yang sudah dimulai beberapa tahun yang lalu. Produk yang dikasih merk Relion diantaranya ada PC biasa, Mini PC, PC Server, netbook, RealPen, dan berbagai perangkat komputer lainnya (Monitor, keyboard, dll). Proses produksi di PT. Berca Cakra ini nggak dilakukan setiap hari secara terus menerus lho gaes. Jadi, produksi masal hanya dilakukan ketika ada orderan masuk. Itulah sebabnya, merk Relion tidak dibuat untuk Retail jadi nggak bisa beli satuan. Kata Bapak lulusan SPG (Sekolah Pendidikan Guru) yang ngasih info ke kami itu, dulu pernah jual satuan, tapi ternyata kalah saing dengan perusahaan dengan modal yang lebih besar. Makanya, pertanyaan gue kenapa gue nggak pernah lihat merk Relion itu ya karena emang nggak bakal tuh ditemuin di Jogjatronik, atau Ramai, atau toko komputer dimana-mana, karena pangsa pasar PT. Berca Cakra emang bukan di situ. Barangkali nemunya justru malah di sekolah-sekolah yang udah kerja sama dengan PT. Berca Cakra. 

Salah satu produk yang diunggulkan di PT. Berca Cakra adalah mini PC. Bentuk mini PC bisa dilihat pas gue masuk ke sesi kedua. Ternyata mini PC sebenernya sama dengan PC biasa, cumaaaa bentuk mainboardnya lebih kecil dan komponen di dalamnya hampir sama dengan komponen dalam netbook.  Jika dibandingkan dengan PC biasa, mini PC lebih unggul dalam penghematan daya listrik yang digunakan. Kalau PC biasa bisa sampai 400 watt, mini PC Cuma butuh daya 60 - 80 watt. Cocok kalau Cuma dipakai untuk ngetik atau browsing, tapi nggak cocok buat keperluan editing video dan rendering. Yaiyalaaaaah.. Bisa jebol :3

Tempat perakitan

Untuk yang mau PKL di PT. Berca Cakra, kalian tinggal kirim surat permohonan ke PT. Berca Cakra. Buat yang diterima PKL di sana, bakal ada training dulu selama satu minggu buat membiasakan diri dengan apa yang bakal dikerjakan selama PKL. Sedangkan waktu pelaksanaannya, sekolah lah yang harus mengikuti jadwal di PT. Berca Cakra, karena kayak yang udah gue sebutkan tadi, produksi masal Cuma ada ketika ada orderan. Kalau mau PKL di PT. Berca Cakra harus siap kerja lembur, jadi bisa aja satu hari harus di pabrik selama 12 jam. Nanti tinggal dikonversi ke jumlah jam yang dibutuhkan siswa untuk menyelesaikan PKL. Setelah selesai PKL di PT. Berca Cakra, siswa bisa dapat sertifikat.

Kemaren gue nggak tanya contact personnya sih, Cuma kalau emang beneran niat buat PKL di sana, bisa googling dulu kontaknya. Kalau nggak nemu, kontak gue nanti gue kasih alamatnya buat kirim surat. Ini ada alamat webnya, cuma sayangnya masih under construction.

Oiya, PT. Berca Cakra juga ngasih penawaran buat sekolah yang punya jurusan TKJ atau teknologi informasi. Jadi, mengingat teknologi yang secara tidak langsung memaksa kita untuk terus belajar hal baru, PT. Berca Cakra punya program satu siswa satu netbook/laptop. Jadi, saat masuk sekolah, siswa dapat netbook/laptop yang kisaran harganya 2-3juta rupiah. Nanti, pembayaran laptopnya itu dicicil selama siswa sekolah (3 tahun) yang besaran cicilannya bisa ditambahkan saat siswa bayar uang SPP tiap bulannya. Sekolah bisa kerja sama dengan bank daerah buat pengadaan netbook/laptop ini. Nanti netbook/laptopnya bisa dikasih dalam bentuk pretelan *halah, jadi siswa yang akan merakit netbook/laptopnya sendiri untuk dimiliki sendiri. Jadi, dari SMK oleh SMK untuk SMK. Hehehehe.

Sebenernya cukup menarik sih kunjungannya, tapi gue merasa anak-anak tuh kayak nggak bergairah buat tau lebih banyak dari mereka. Muka udah pada lemes, lesu, cemberut. Iya, mungkin capek karena udah seharian di bus yang mungkin buat beberapa orang itu bisa jadi pengalaman pertama mereka, tapi paling enggak sembunyikan dulu rasa lelah itu. Kita bertamu, dan sang tuan rumah lihat muka tamunya cemberut semua. Gimana coba perasaannya?

Di PT. Berca Cakra nggak bisa terlalu lama, karena gue dan rombongan harus segera cus ke destinasi selanjutnya di Bekasi. Kemanaaaa? Baca duluu sampai selesai.

Oleh-oleh dari PT. Berca Cakra
Dua jam perjalanan Sunter-Bekasi gue habiskan untuk tidur setelah ngabisin makan siang. Bukan apa-apa, biar nggak berasa aja perjalanannya. Bener aja, tau-tau udah masuk di kawasan industri MM2100 di Cikarang Barat - Bekasi. Alamat webnya di sini. Sejauh mata memandang, semua isinya pabrik gede-gede. Ada AHM, ada Lotte wah banyak deh pokoknya. Setelah muter-muter, sampailah gue dan rombongan di SMK Mitra Industri MM2100.

Mau ngapain ke situ?
Ya mau belajar lah. Yang gue denger dari pak kepala sekolah tentang sekolah ini tuh hebat banget, dan sekarang gue mau lihat kehebatan sekolah ini beneran nggak kayak yang pak kepala sekolah ceritain.

Begitu turun dari bus dan selesai sholat, gue dan rombongan dari bus 3 langsung dihadapkan dengan lahan yang ditutupi konblok dan dicat hijau menyerupai jalan dan diberi arah panah warna kuning. Ya, jalannya harus lewat bagian yang dicat hijau itu. Terus kami diarahkan untuk menuju aula. Pas naik tangga, di anak tangga pertama sebelah kiri ditulisin "IN" terus di bagian tengah ada garis merah, dan bagian kanan ada tulisan "OUT". Paham dong maksudnya apa. Selepas dari tangga langsung disambut siswa SMK Mitra Industri dengan senyum ramah, dan dibagiin snack sama siswa yang pakai terusan rok warna merah, dengan stocking hitam dan dilengkapi dengan high heels hitam. Gue berdecak kagum. Temen-temen gue yang jadi panitia acara pas kuliah dulu mah lewaaaaaat….

Gedung dan jalur hijau yang dilewati

Selamat datang!

Jadi, SMK Mitra Industri MM 2100 adalah sekolah yang didirikan untuk memenuhi kebutuhan karyawan di dunia industri. Pendirinya adalah orang-orang dari dunia industri, salah satunya adalah Bu Lis selaku kepala sekolah di SMK Mitra Industri MM2100 yang juga bagian dari salah satu perusahaan cat terkemuka. Nah, karena latar belakang pendirinya aja merupakan orang-orang dari dunia industri, mereka mencoba menerapkan di sekolah yang mereka buat itu. Mulai dari tata tertibnya, apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan, sikap yang harus dimiliki. Hasilnya, banyak lulusan dari SMK Mitra Industri yang dicari oleh HRD dari banyak perusahaan besar. 

Dalam sambutannya, Bu Lis menyampaikan bahwa anak-anak adalah calon kupu-kupu yang indah. Dimana sebelum menjadi kupu-kupu, ulat akan menjadi kepompong terlebih dahulu. Panas, gerah, sakit pasti dirasakan. Tapi ketika proses itu diterima dan dilakukan dengan baik, maka kupu-kupu dengan sayap indah akan lahir dan bisa terbang bebas di angkasa. Namun tidak akan jadi kupu-kupu yang indah kalau saat jadi kepompong sudah tidak tahan. Ibarat saat di sekolah, ada peraturan dan tata tertib sekolah yang dibuat untuk kebaikan siswa, ternyata siswa terlalu banyak mengeluh, terlalu banyak memberontak, dan akhirnya keluar dari sekolah, tentu apa yang sudah dibentuk tidak akan berakhir sempurna. 

Oiya, soal punishment dan reward buat siswa di SMK Mitra Industri MM2100 dilakukan dengan poin. Untuk poin dibawah 50, maka siswa tidak naik kelas. Terus untuk punishment, SMK Mitra Industri MM2100 tidak melakukan hukuman fisik karena hanya akan menyisakan sakit hati. Sebagai gantinya, hukuman untuk siswa yang melanggar mulai dari mengerjakan soal Matematika sepulang sekolah, mencatat ceramah khatib saat sholat jum'at, sampai sholat tahajud tiap malam selama 3 bulan berturut-turut dan ditandatangani orang tua. Gatau kenapa punishment ini senada dengan opini gue saat gue berpikir hukuman seperti apa yang sekiranya pantas diterima oleh siswa yang melanggar. Bentak-bentak gue rasa nggak akan bikin hati orang jadi luluh, gue pikir pendekatan agama akan jauh lebih berefek. Bukan Cuma buat siswa yang melanggar tata tertib di sekolah, tapi buat pelajar yang suka terlibat tindak kriminalitas di luar sekolah. Barangkali yang awalnya dipaksa untuk ibadah, akhirnya bisa melunakkan hati mereka. Apa sih yang nggak mungkin di mata Allah?

Menurut Bu Lis lagi, guru di sekolah harus jadi role model. Kalau guru datang terlambat ya minta maaf, kalau guru melakukan kesalahan ya minta maaf, kalau habis diberi bantuan ucapkan terima kasih. Dan berbagai sikap baik yang harus dilakukan terlebih dahulu oleh guru dan seluruh komponen yang ada dalam sekolah. Karena guru itu digugu lan ditiru. Hal penting lainnya adalah, libatkan orang tua. Setiap orang tua harus tau kegiatan yang dilakukan anaknya. Kalau orang tua mau anaknya menjadi orang sukses, orang tua harus melakukan tugasnya juga. Tidak bisa semua hal dalam mendidik anak diserahkan sepenuhnya kepada guru di sekolah. 

Pertemuan di Aula SMK Mitra Industri MM2100 juga dihadiri oleh beberapa orang dari Suzuki. Salah satunya adalah orang yang biasa melakukan tes kepada calon karyawan, namanya Pak Soko (cmiiiw, tolong dibenerin yaa kalau salah). Beliau cerita pengalamannya dalam melakukan tes kepada siswa yang ingin bekerja di Suzuki. Ternyata, masih banyaaaaak sekali yang belum bisa melakukan pengukuran dengan alat ukur (bisa macrometer atau jangka sorong) dengan tepat. 

Kunjungan di SMK Mitra Industri MM2100 diakhiri dengan menyaksikan sekaligus mengikuti kegiatan apel sore bersama seluruh siswa dan guru-guru. Jadi, awalnya bel pulang bunyi. Habis itu disetelin lagu Maju Tak Gentar sembari seluruh siswa keluar dari kelas, membentuk barisan dan jalan lewatin jalur hijau buat membentuk barisan per kelas. Sampai di lapangan, mereka jalan di tempat sampai lagu selesai diputar. Setelah itu mulailah prosesi apel, mulai dari laporan masing-masing kelas sampai menyerukan yel-yel. Yang bikin salut adalah, mereka tuh rapih banget barisnya. Semuanya serius pas apel, nggak ada yang sibuk sendiri di belakang. Terlebih lagi, sampai jam pulang sekolah yang udah sesore itu (16.00), jumlah siswa per kelas rata-rata masih lengkap. Kalaupun ada yang kurang, itu karena mereka ada yang lagi magang. Dari ujung rambut sampai ujung kaki sama semua kecuali wajahnya. Buat yang jurusan selain perhotelan pakai setelan seragam dan sepatu yang sama. Kerudungnya sama, dan harus pakai ciput. Terus buat siswa perhotelan pake terusan rok merah kayak yang tadi udah gue tulis di atas. 

Yang lebih mencengangkan lagi adalah saat mereka kompak teriakin yel-yel sekolah mereka pakai tiga bahasa. Bahasa Indonesia, Bahasa Jepang sama Bahasa Inggris. Merinding. Pas gue nengok ke belakang ternyata itu adalah salah satu ruangan kelas mereka. Bersih banget. Nggak ada tuh meja yang berantakan, nggak ada juga coret-coretan. Pintu ruang kelas dibuat transparan. Wali kelas juga bertanggung jawab penuh terhadap siswa yang diampunya. Kalau ada siswa yang pakaiannya nggak seragam, wali kelas ikut nemenin dihukum. Luar biasa. Sayangnya gue nggak sempet ambil banyak gambar dan video, mungkin bakal gue cariin via youtube aja ya.

Siswa SMK Mitra Industri MM2100


Video dari youtube

Nah, sikap-sikap siswa di SMK Mitra Industri MM2100 inilah yang coba diterapkan pak kepala sekolah di tempat gue ngajar. Pak kepala sekolah pengen ada perubahan di siswa sekolah gue yang saat ini bisa dibilang 'lumayan parah' dalam hal sikap yang harusnya mereka punya. Nggak akan gue jembrengin di sini sih gimana-gimananya, Cuma gue berharap semoga apa yang sudah mulai diinisiasi oleh pak kepala sekolah bisa menular ke guru-guru lain dan lama kelamaan seluruh isi sekolah bisa jadi lebih baik. Somehow gue ngerasa nggak semua orang bakal bisa di kayak giniin. Bakal ada yang dalam hatinya berontak, kayak "Ah, buat apa sih gue nurut aja disuruh kayak gini dan kayak gitu. Males banget. Gue pengen bebas aja.". Tapi kalau emang punya niat untuk memperbaiki diri dan pada akhirnya bisa kerja di perusahaan besar dan biar bisa ikut bantu mensejahterakan keluarga ya mau nggak mau harus berubah. 

Kemaren itu gue jadi berfikir, orang-orang di dunia pendidikan bahkan harus berguru ilmu pada orang non kependidikan untuk belajar bagaimana caranya mendidik. Bukannya nggak boleh, justru bagus, karena jadi lebih bisa terbuka pandangannya soal apa yang belum diketahui. Orang kependidikan nggak tau kerja di pabrik yang sebenernya tu gimana sih? Ya mungkin tau, tapi paling juga dari katanya-katanya. Nah, orang non kependidikan dari dunia industri ini justru yang lebih tau seluk beluk dunia industri dan akhirnya diterapkan dalam dunia pendidikan supaya bisa menghasilkan lulusan seperti apa yang dunia kerja mau. Apalagi di era MEA ini, saingannya akan tambah banyak. Kalo nggak punya sikap baik dan mental tangguh, modalnya mau apa? Pinter doang? Ya nggak bisa. Walaupun di SMK ada PKL, tapi ya beda-beda aturan dan tata tertibnya. Ada yang harus masuk jam sekian sampai jam sekian dengan target sekian, ada juga yang terserah mau masuk jam berapa asalkan target hari ini harus selesai. Tergantung tempatnya nanti kayak gimana, yang penting sikap dasarnya udah tertanam dalam diri.

That's why belajar itu bisa dari mana aja. Dan jangan pernah merasa pintar dan berhenti untuk belajar. Sampai kapan? Ya sampai mati.

Sepulang dari SMK Mitra Industri gue jadi merenung, apakah selama gue ngajar gue udah berusaha jadi guru yang baik? Apakah gue sudah berusaha untuk menjadi contoh yang baik buat murid-murid gue? Apakah ketika ada murid yang nggak ngerti materi yang gue ajarin itu murni karena mereka males? Atau gue yang nggak bisa menyampaikan dengan baik? Yah, perubahan kadang nggak bisa instan. Butuh proses. 

Kok tegang ya? Hahaha.

Perjalanan berlanjut ke Cibaduyut ditemani hujan di tol Purbaleunyi. Karena kursi di sebelah gue kosong, gue lebih banyak menghabiskan waktu dengan tidur. Mencoba menyembunyikan rasa nyesek karena udah jauh sampe Jakarta tapi nggak bisa pulang ke Bogor. Hiks.

Di Cibaduyut, buat ngobatin kangen gue beliin kaos reglan yang seragaman buat Ibu, Ayah, Novi sama Radit. At least paling enggak kalaupun guenya nggak sampe sana, paketannya yang bisa sampe sana. Nah, ini juga belajar nih. Belajar nahan kangeeeeeen.

Hehehe.

Sisa perjalanan pulang ke Kulon Progo pun gue habiskan dengan tidur. Capek banget rasanya. Ahamdulillah sampai dengan selamat di sekolah jam 9.15 pagi. Sarapan di Soto Pak Dullah, pulang dan mandi.


1 komentar:

min yang kunjungan di pabrik suzuki itu pada bidang body mobil apa mesin

REPLY

Komentar dari:

Precious Moment . 2017 Copyright. All rights reserved. Designed by Blogger Template | Free Blogger Templates