12 Agustus 2015

It's been a long day after my last post here.

Kali ini gue mau sedikit menceritakan kembali soal sebuah film yang baru aja gue lihat kemaren sore. Sebuah film yang bikin penasaran karena gue follow penulis ceritanya di Twitter dan dia gencar banget promo sambil ngeretweetin testimoni orang-orang yang udah nonton filmnya. Setelah hampir pesimis nggak bisa nonton di bioskop karena nggak ada temen, akhirnya kemaren berangkatlah gue dengan modus nemenin sahabat yang baru galau-karena-cinta. Haha.

Ini lho filmnya :3

Poster Film Surga yang Tak Dirindukan taken from here
Kenapa gue kepengen banget nonton film ini? Emm, pengen lihat debutnya Laudya Chintya Bella di dunia akting setelah berhijab, ditambah ada Fedi Nuril yang setiap gue lihat di film tu ekspresinya total abis, terus mau lihat Raline Shah yang terakhir gue lihat di film 5cm. Dari awal gue udah tau film ini isinya tentang poligami. Dan yang bikin makin pengen nonton adalah karena gue ingin menjawab pertanyaan dari dalam diri gue sendiri, bagaimana kisah poligami yang ada di film ini, serta bagaimana tokoh dalam film ini menyikapi dan menyelesaikan konflik yang terjadi. 

Setelah diuber-uber waktu yang mepet karena cuma ada waktu kurang dari 45 menit buat makan dan naik-turun-naik lagi ke lantai paling bawah dan lantai paling atas, akhirnya kami bisa duduk manis di studio 3 row D seat 12 dan 13.

***
Kesan pertama saat masuk studio adalah bertanya-tanya kenapa isi studio hampir sebagian besar berisi mbak-mbak berusia semuran gue. Ya, mungkin mereka penasarannya sama kayak gue. Haha. Meskipun gue juga lihat ada beberapa mas mas yang ikutan nonton, sendirian pula. Tapi yasudahlah yaa mari kita mulai menikmati film sambil Akhi di sebelahku udah nyiapin tisu buat jaga-jaga kalau air mata tak dapat terbendung lagi.

Oiya, satu hal lagi. Gue udah tau juga kalau lokasi syuting film ini full di Jogja. Darimana taunyaa? Karena gue follow instagramnya Zaskia Adya Mecca yang juga turut serta main di film ini. Zaskia pernah update waktu lagi syuting di Jogja. Kalau nggak salah, suaminya Zaskia (Hanung Bramantyo) jadi co-produser di film ini. 

***
Cerita diawali dari pencarian sebuah mushola di daerah Bantul, yang pada akhirnya mempertemukan Pras (Fedi Nuril) dan Arini (Laudya Chintya Bella). Arini adalah seorang guru yang sering bercerita tentang dongeng Madaniah. Pertemuan pertama itu akhirnya menjadi jalan bagi mereka menuju ke pernikahan yang dikaruniai seorang anak perempuan bernama Nadia. Pernikahan mereka begitu indah karena diisi dengan kasih sayang serta kesetiaan dari Pras untuk Arini.

Suatu hari saat Pras ingin mengecek pembangunan jembatan di daerah Kulonprogo, ia menjumpai ada mobil yang masuk jurang. Setelah dicek, langsung saja Pras membawa korban tersebut ke rumah sakit. Ternyata, seseorang yang ditolong Pras itu sedang mengandung dan dokter harus segera melakukan operasi sesar untuk menyelamatkan keduanya. Tidak sempat mengabari Arini karena baterai handphonenya habis, Pras tetap berada di rumah sakit untuk menunggu orang yang ditolongnya tersebut. Alhamdulillah ibu dan bayinya selamat, kemudian Pras memberi nama bayi tersebut Akbar Muhammad. Saat itulah Pras mengenal Mei Rose (Raline Shah), perempuan yang ditolongnya itu.

Celaka, Mei Rose tidak ada di kamar saat Pras mencoba mengecek. Ternyata, Mei Rose berusaha melakukan percobaan bunuh diri kedua kalinya dengan melompat dari ketinggian 19,5 meter tepatnya dari bagian atap rumah sakit. Dia depresi. Sebelumnya, Pras sempat melihat video yang terdapat dalam handphone milik Mei Rose yang berisi cerita tentang bagaimana ayahnya pergi meninggalkan ia dan ibunya saat ia berulang tahun ke 12, kemudian ibunya meninggal karena bunuh diri. Ditambah lagi ia ditinggalkan oleh orang yang berjanji akan menikahinya padahal kandungannya sudah membesar. Kurang lebih sama dengan yang pernah dialami Pras saat ia masih kecil, dimana ibunya juga meninggal bunuh diri dihadapannya sendiri, sehingga sedikit banyak Pras juga paham apa yang dirasakan oleh Mei Rose.

Saat Mei Rose melompat, beruntung tangan Pras sempat menggapainya. Sehingga ada adegan dimana Mei Rose bergelantungan di tangan Pras. Mei Rose meminta agar Pras melepaskan tangannya, namun Pras tetap bersikukuh menahannya, karena dia tidak ingin Akbar tidak memiliki siapa-siapa lagi. Pras tidak ingin sejarah terulang kembali dengan orang yang berbeda. Ditengah kondisi seperti itu, akhirnya Pras membuat keputusan untuk menikahi Mei Rose saat itu juga. Akhirnya, Mei Rose mau diangkat dan malam itu juga, Pras menikahi Mei Rose. Kedua sahabat Pras yakni Amran (Kemal Pahlevi) dan Hartono (Tanta Ginting), datang ke rumah sakit saat Pras selesai mengucapkan ijab qabul. Disitulah awal kerumitan cerita dimulai.

Merasa bersalah pada Arini, Pras menyusul Arini dan Nadia ke Muntilan, rumah kedua orang tua Arini. Di perjalanan, Pras mendapat telfon dari Arini yang suaranya terdengar sesenggukan. Ternyata ketika Pras sampai di rumah, ayah Arini sudah meninggal dunia. Saat berduka itu, datanglah seorang perempuan beserta anaknya. Yang ternyata merupakan istri kedua ayahnya yang selama 15 tahun telah melakukan poligami dan diketahui oleh ibunya, namun ibunya menutupi semuanya dari Arini. Arini sedih dan kecewa mengetahui ayahnya melakukan poligami. Dia kemudian mempertanyakan kesetiaan Pras terhadap dirinya, tanpa dia tahu bahwa saat itu Pras pun telah menikahi seorang perempuan tanpa sepengetahuannya.

Mei Rose sudah mulai stabil, dia juga sudah bertanya pada Pras tentang kapan Pras akan memberitahu Arini. Pras hanya menjawab "Belum saatnya..". Mei Rose juga sudah siap dengan segala konsekuensi apabilan suatu hari nanti Arini tahu perihal pernikahan mereka. Dan, pada akhirnya, lewat sebuah surat yang ditemukan di saku celana Pras, Arini mengetahui sendiri bahwa Pras sudah memiliki istri lainnya. Sungguh, hati perempuan mana yang tidak hancur mengetahui bahwa dirinya harus berbagi suami dengan perempuan lain? Jelas, Arini marah. Arini kecewa. Kekecewaannya itu ditumpahkan di rumah saat Pras sudah mengetahui bahwa Arini sudah tahu perihal pernikahannya dengan Mei Rose. Pras berusaha menjelaskan, sementara Arini berkata bahwa semakin Pras berusaha menjelaskan, semakin sakit hati Arini. Arini ingin pergi dari rumah itu, tapi Pras mengalah.

"Aku yang salah, aku yang harus pergi..", katanya.

Ditengah kegalauan hati Arini, Pras, dan Mei Rose, selalu ada Allah diantara ketiganya. Meskipun Mei Rose baru saja memeluk islam saat akan dinikahi Pras, tapi dia berusaha menjadi muslimah yang baik. Dia juga paham tentang posisinya saat itu. Sebagai seorang wanita, ia juga tahu bahwa ia sedang membangun dongengnya di atas air mata perempuan lain. Satu adegan yang membuat terharu adalah saat Nadia dijemput oleh Arini di sekolah, kemudian mereka bertemu Pras. Arini yang waktu itu masih marah, tidak berkata apapun pada Pras. Nadia yang tidak mengerti otomatis mempertanyakan mengapa kedua orang tuanya diam saja saat bertemu, disitu Pras menangis. Saat Pras pulang ke rumah Mei Rose pun, yang paling pertama dicari adalah Akbar. Tidak pernah sekalipun Pras datang khusus untuk mencari Mei Rose. Saat ia bertengkar hebat dengan Arini pun, Pras mencari Allah, bukan berlari pada Mei Rose.

Arini yang pada awalnya tidak bisa menerima pernikahan Pras dengan Mei Rose akhirnya mulai belajar untuk menerima dan mengikhlaskan bahwa surga yang ia bangun bersama Pras tidak akan berakhir bahagia. Surga yang selama ini ia bangun bukan lagi surga yang ia rindukan. Arini belajar banyak hal dari ibunya tentang bagaimana bersikap, ia belajar banyak karena ibunya juga pernah merasakan apa yang dia rasakan saat itu. Ibunya hanya berkata bahwa dia ikhlas, dia hanya ingin melihat anak-anaknya tak kurang suatu apapun. Arini kemudian mulai membuka hati untuk menerima Mei Rose. Karena lebih dulu memiliki anak, Arini sedikit banyak membantu Mei Rose dalam mengurus bayinya. Pras juga berusaha memenuhi janji yang ia ucapkan pada Nadia, yaitu datang di acara pentas tahunan yang diselenggarakan di sekolah Nadia.

Suatu hari, ditengah malam dan hujan yang deras, Pras melihat ada seorang perempuan yang berteriak karena hampir diperkosa oleh seorang laki-laki. Naluri Pras kemudian membuatnya bergerak untuk menolong perempuan tersebut. Perempuan tersebut berhasil lari, namun Pras tertahan dan dipukuli oleh orang-orang jahat yang ternyata bersembunyi, kemudian ia ditusuk di bagian perut. Beuntung Pras masih selamat. Mei Rose menunggui Pras di rumah sakit. Namun dalam ketidaksadarannya, nama Arini yang Pras sebut. Saat Arini datangpun, kemudian Mei Rose beranjak pergi meninggalkan mereka berdua. 

"Arini..."
"Iya mas, iya, ini Arini. Mas yang kuat ya..."

Beberapa hari dirawat di rumah sakit, Arini pergi ke rumah Mei Rose. Ia mengajak Mei Rose menjenguk Pras di rumah sakit. Di sana berkumpul semua orang terdekat Arini. Mulai dari Nadia, ibunya, kedua sahabat Arini, Amran dan Hartono. Agak kaget saat melihat Arini masuk bersama dengan Mei Rose. Namun Arini berusaha untuk mencairkan suasana dengan memperkenalkan Mei Rose pada orang-orang yang ada di ruangan itu. Saat Nadia bertanya tentang siapa Mei Rose, Arini memperkenalkan bahwa mulai hari itu, Mei Rose menjadi adiknya. Dan Nadia juga memiliki adik laki-laki bernama Akbar.

Setelah Pras pulih dari luka yang dialaminya, Mei Rose bersama Akbar mengunjungi rumah Pras. Pras terlihat sangat canggung saat kedua istrinya berada dalam satu meja makan yang sama. Arini melayani Pras dan Mei Rose dengan sangat baik, bahkan mengiyakan permintaan Nadia yang meminta agar Mei Rose menginap di rumahnya. 

Keesokan harinya saat Arini akan mengajak Mei Rose untuk sholat subuh berjamaah, ternyata Mei Rose tidak ada di kamarnya. Hanya ada Akbar dan handphonenya di sana. Arini lantas membuka handphone Mei Rose dan menemukan sebuah video yang berisi ucapan perpisahan dan pesan agar Pras dan Arini menjaga Akbar sampai ia dewasa. Arini panik dan segera memberitahukan hal itu pada Pras. Mereka berdua kemudian bergegas mencari Mei Rose, khawatir dengan kemungkinan terburuk. Sesampainya di rumah Mei Rose, mbok yang menemani Mei Rose berkata bahwa Mei Rose baru saja pergi ke stasiun.

Arini dan Pras akhirnya mengejar Mei Rose sampai stasiun. Setelah mencari di berbagai tempat, akhirnya Pras menemukan Mei Rose di salah satu gerbong kereta. Pras kemudian menarik Mei Rose keluar. Pras bersikukuh menahan Mei Rose, tapi Mei Rose sudah bertekad bulat untuk pergi ke Jakarta, menyusul ayahnya yang lumpuh di Jakarta.

Pras: "Arini sudah ikhlas..."
Mei Rose: "Tidak ada yang benar-benar ikhlas berbagi, yang ada kita cuma sama-sama berkorban..."

Dan di akhir cerita, Arini memeluk Mei Rose yang akan pergi. Merekapun berpamitan dan kereta yang ditumpangi Mei Rose makin menjauh ke arah barat.

***
So, begitulah kira-kira ceritanya. Gue merasakan sedih yang tidak klimaks di film ini, nggak seperti ekspektasi gue sebelumnya dimana kalau mau nonton film ini gue harus siap-siap tisu dan siap-siap jadi jelek pas keluar dari studio gara-gara nangis kejer. Ternyata air mata itu hanya setetes saja mengalir, masih banyakan air mata gue yang keluar kalau pas gue ngantuk :3 Mungkin itu bisa jadi karena gue kebanyakan salah fokus di film, sok nebak-nebak, dan baru mau nangis udah ketawa gara-gara part humornya. 

Bayangin aja, waktu Pras sama Arini ijab qabul. Gue malah merhatiin jerawat di jidatnya Fedi Nuril. Kan wagu. Terus pas ada shoot di ultahnya Nadia, gue sibuk merhatiin Sybil (Anaknya Zaskia Adya Mecca) yang ikut main film itu ternyata. Aku ngefans sama kamu lho, dek. Hehe. Adegan humornya juga banyak, apalagi Amran sama Hartono. Yang satu pro-poligami, yang satu anti poligami. Sampai bawa surat An-Nisa di angkringan.

Buat pengambilan gambarnya... Jogja dibikin jadi keren banget men! Apalagi ada beberapa shoot yang pakai drone. Wuuuh, fly over Jombor aja jadi keren banget. Ditambah ada Panggung Krapyak, Rumah Sakit JIH, Plengkung Gading, Apotik Gadjah Mada, Bunderan UGM, Stasiun Tugu, Pantai Goa Cemara. Sayang, nggak ada stadion UNY. Ahahaha :3 Di film ini, Jogja juga kelihatan jadi sepiiiii banget. Keren banget. Cuma sebagai orang yang ngerti lokasinya, waktu ada kecelakaan di daerah Kulonprogo kok dibawanya ke JIH ya? Kan ada rumah sakit yang lebih deket. Ahahaa. Namanya juga film.

Akhi yang lagi galau, duduk disebelah kananku sambil sesenggukan. Sesekali idungnya terdengar sentrap-sentrup. Haha.

Terus, Peh. Pertanyaannya udah kejawab belum?
Oiya, emm, at least, hidup ini berjalan diatas takdir yang sudah Allah gariskan atas pilihan-pilihan yang kita ambil. Di film itu, bisa aja Pras nggak usah berhenti buat nolongin orang kecelakaan. Dia nggak akan poligami, dia nggak mesti berantem sama Arini. Tapi di akhir, dengan Pras menikahi Mei Rose, semuanya bisa 'dipaksa' belajar untuk lebih ikhlas. Gue nggak melihat sisi ketidaksetiaan Pras di film itu. Karena di film itu, waktu Pras ketemu sama Arini dengan Pras ketemu sama Mei Rose itu digambarkan dengan cara yang beda. Pras nggak pernah niat buat poligami, tapi saat ia terlanjur terjebak dalam kondisi seperti yang dia alami di depan matanya, apakah dia akan membiarkan seseorang mati bunuh diri di depan matanya (lagi)?

Coba deh kalau pas nonton film ini, perhatikan pas bagian Nadia mendongeng. Sesungguhnya disanalah esensi film ini berada. Iyee, yang pas dia nyeritain rajanya pulang bawa peri jahat itu...

Penasaran kan penasaraaan? Lihat deh di bioskop, masih tayang kok filmnya :)

***
Soundtrack Surga yang Tak Dirindukan by Krisdayanti:

p.s. Habis ini pengen baca novelnyaaaa~ Mbak Asma Nadia, aku dikirimi novelnya sih :3 *wuuuu njaluk-an

***
Arini: "Mas, mau jadi imam?" | Pras: "Secepat itu?" | Arini: "Loh, bukannya sholat harus disegerakan?"

Komentar dari:

Precious Moment . 2017 Copyright. All rights reserved. Designed by Blogger Template | Free Blogger Templates