10 Oktober 2013




***
Seperti biasa pukul 6.15 aku berangkat menjemputmu di rumah. Mentari masih malu-malu di ufuk timur. Jalanan lengang, seolah memberikan aku kesempatan untuk bisa lekas sampai di rumahmu. Sebuah tempat yang hampir setiap hari aku kunjungi. Baik hanya sekedar menjemputmu untuk berangkat ke tempat kita menuntut ilmu, atau untuk menghabiskan hari sambil tidur-tiduran di halaman belakang rumahmu. Kemudian aku teringat pertama kali kita bertemu dulu. Kala itu kita menjadi tetangga yang rumahnya hanya dibatasi selapis batu bata.

Kamulah orang yang pertama kali menyadarkanku bahwa aku memiliki dunia seindah yang aku miliki sekarang. Peduli apa kedua orang tuaku bermasalah dan memutuskan untuk berpisah, selama aku bersamamu, aku tidak pernah kehilangan sepeser kebahagiaan itu. Memang, kala itu kita masih sama-sama duduk di bangku sekolah dasar. Masih terlalu kecil untuk mengerti permasalahan orang dewasa. Yang aku tahu hanya, aku ingin selalu ada di dekatmu.

Hari berganti minggu. Minggu berganti bulan. Bulan berganti tahun. Perceraian itu benar-benar terjadi ketika aku mulai bertumbuh menjadi remaja yang hampir habis masanya. Dan aku baru paham tentang 'orang ketiga' yang turut andil dalam perpisahan kedua orang tuaku. Namun, seperti yang selalu aku bilang, selama bersamamu aku tidak pernah kehilangan sepeser kebahagiaan itu. Yang aku tahu hanya, aku ingin selalu ada di dekatmu.

Sampai ketika aku harus meninggalkan saksi-saksi bisu kedekatan kita karena aku harus tinggal bersama ibu. Malam itu kamu menangis. Diantara rerumputan halaman belakang rumahmu yang selalu menjadi saksi tawa kita, bulir-bulir bening itu jatuh. Aku tahu aku tak mampu mencegahnya. Aku hanya menjanjikan bahwa aku tidak akan pernah meninggalkanmu. Maksudku, hatiku akan tetap pada tempatnya. Hanya fisik kita yang akan disekat oleh jarak. Dalam hitungan puluhan kilometer, dan bukan hanya sekedar selapis batu bata lagi. Kemudian baru kamu berani menatapku.

Selepas kepindahan itu, aku berusaha sekuat tenaga untuk memenuhi janjiku. Datang ke rumahmu, menemuimu. Bercerita apapun. Membuatmu tertawa. Dan Tuhan amat baik dengan membuat kita berkuliah pada satu kampus yang sama. Kemudian setiap hari aku selalu mampir ke rumahmu. Memacak diri dengan penampilan paling baik yang bisa aku lakukan setiap hari. Kemudian menekan bel rumahmu sambil senyum-senyum sendiri. Dan setelah kamu membukakan pintu, senyum itu ku bagi satu denganmu. Hingga selanjutnya, senyum-senyum itu menjadi, satu senyum milikku dan satu senyum milikmu.

Tak terasa sejak pertemuan kita yang pertama dulu.... Sudah sewindu...

Kini kita telah sama-sama dewasa. Jauh di lubuk hatiku yang paling dalam aku memiliki keinginan suci untuk kita berdua. Namun, ini semua urung ku sampaikan padamu. Nanti saja sambil aku mempersiapkan matang-matang.

Sesampainya di depan rumahmu. Sebuah mobil lain telah terparkir rapi di depan pagar rumahmu. Lewat jendela mobilku, aku melongokkan kepalaku. Seorang laki-laki berbadan tegap yang kali ini menekan bel rumahmu. Kemudian kamu keluar dari dalam rumah, memberikannya senyum, kemudian memeluknya.

Sebelum kamu menyadari keberadaanku, aku segera tancap gas. Dikepalaku, kesakitan-kesakitan selama sewindu kebelakang hadir dan menusuk-nusuk setiap jengkal kebahagiaan yang dulu pernah menutupinya. Aku menjadi mengerti mengapa aku harus benci 'orang ketiga'.

Aku laki-laki. Aku harus kuat. Ibuku tak ingin aku menjadi laki-laki yang lemah, apalagi hanya karena urusan cinta. Kuputuskan untuk tidak pernah kembali ke rumahmu. Kubuang jauh semua hal yang bisa mengingatkanku padamu. Aku tidak benci padamu. Aku hanya tidak ingin menjadi bodoh.

Dan, aku tidak akan lagi....

***

Sudah sewindu ku di dekatmu
Ada di setiap pagi, di sepanjang hari
Tak mungkin bila engkau tak tahu
Bila ku menyimpan rasa yang ku benam sejak lama

Setiap pagi ku menunggu di depan pintu
Siapkan senyum terbaikku agar cerah harimu
Cukup bagiku melihatmu tersenyum manis
Di setiap pagimu, siangmu, malammu

Sesaat dia datang pesona bagai pangeran
Dan beri kau harapan bualan cinta di masa depan
Dan kau lupakan aku semua usahaku
Semua pagi kita, semua malam kita

Oh tak akan lagi ku menemuimu di depan pintu
Dan tak ada lagi tutur manis ku merayumu

Setiap pagi ku menunggu di depan pintu
Siapkan senyum terbaikku agar cerah harimu
Cukup bagiku melihatmu tersenyum manis
Di setiap pagimu, siangmu, malammu

Sesaat dia datang pesona bagai pangeran
Dan beri kau harapan bualan cinta di masa depan
Dan kau lupakan aku semua usahaku
Semua pagi kita, semua malam kita

Oh tak akan lagi ku menemuimu di depan pintu
Dan tak ada lagi tutur manis ku merayumu
Oh tak akan lagi ku menemuimu di depan pintu
Dan tak ada lagi tutur manis ku merayumu

Jujur memang sakit di hati
Bila kini nyatanya kau memilih dia
Takkan lagi ku sebodoh ini
Larut di dalam angan-angan tanpa tujuan

Oh tak akan lagi ku menemuimu di depan pintu
Dan tak ada lagi tutur manis ku merayumu
Oh tak akan lagi ku menemuimu di depan pintu
Dan tak ada lagi tutur manis ku merayumu

***

Komentar dari:

Precious Moment . 2017 Copyright. All rights reserved. Designed by Blogger Template | Free Blogger Templates