17 September 2018

Resep Bluder Belanda ala Hanijava dan #mbakipar

Halo pembaca! Setelah sekian lama, akhirnya update juga tulisan di blog ini. Maafkan membuat kalian rindu. Haha. Kali ini, gue akan berbagi resep roti yang baru aja gue dan mbakipar praktikkan kemarin. Kebetulan di rumah bumer ada acara pengajian, terus mbakipar yang emang jago bikin roti ngajak gue bikin roti yang namanya Bluder. 

Bluder di dalam Papercup
Bluder ini awalnya adalah roti yang berasal dari Eropa khususnya Belanda. Dibawa ke Indonesia sejak zaman penjajahan. Walaupun Belandanya sekarang sudah pergi, tapi ada peninggalan yang sampai saat ini masih menjadi idola orang-orang dan sekarang banyak dijumpai sebagai makanan khas dari Madiun. Salah satu Bluder yang terkenal adalah Bluder Cokro. Kalian bisa googling soal si Bluder Cokro ini.

Untuk bikin bluder, sebetulnya caranya nggak terlalu rumit. Hanya saja, butuh waktu yang cukup lama mulai dari mempersiapkan alat dan bahan sampai si Bluder ini siap untuk mengenyangkan perut. Jadi, gue nggak menyarankan si Bluder ini sebagai pilihan masakan, kalau kalian cuma punya waktu kira-kira 1 jam aja buat memasaknya.

Alat:
1. Mangkuk untuk menguleni
2. Cetakan roti
3. Kain
4. Oven
 5. Tangan yang kuat buat nguleni adonan dari bentukan yang lengket sampai kali

Bahan:
1. 2 butir telur
2. 150 gram gula pasir
3. 100 gram tepung terigu protein tinggi
4. 100 gram tepung terigu protein sedang
5. 4 gram ragi
6. 30 gram susu bubuk putih
7. 150 gram mentega
8. 1 sdt garam
9. Coklat batang secukupnya (untuk isian)

Bahan B (Biang):
1. 300 gram tepung terigu protein tinggi
2. 3 gram ragi
3. 180 ml air es

Cara pembuatan:
  1. Uleni bahan B dengan tangan sampai membentuk adonan, kemudian diamkan satu jam dalam mangkuk dan diberi kain penutup di bagian atasnya.
  2. Dalam mangkuk terpisah, campur tepung terigu, gula, ragi dan susu sambil diayak.
  3. Masukkan bahan B yang telah didiamkan selama satu jam tadi.
  4. Kocok telur dengan menggunakan mixer, tuang ke mangkuk berisi adonan.
  5. Masukkan mentega dan garam, uleni dengan tangan hingga kalis, kemudian diamkan 45 menit - 1 jam sampai adonan mengembang maksimal.
  6. Timbang adonan dengan berat masing-masing 50gram, kemudian bentuk bulatan dan isi bagian dalam adonan dengan coklat batang (atau kalian bisa menyesuaikan dengan isi favorit kalian, misal pandan, keju, dll).
  7. Letakkan adonan yang sudah terisi coklat tadi pada cetakan roti, sampai adonan habis.
  8. Diamkan adonan dalam cetakan selama 1 jam sampai mengembang (jangan lupa untuk selalu menutup adonan dengan kain saat didiamkan).
  9. Panaskan oven. Saat adonan akan dipanggang, olesi bagian atas dengan kuning telur.
  10. Panggang adonan dengan suhu 160 derajat celcius selama kurang lebih 25 menit sampai adonan matang berwarna kecoklatan.
  11. Turunkan dari oven, kemudian sajikan.


Nah, lumayan lama kan waktu yang dibutuhkan buat bikin Bluder ini? Kalau dihitung, bisa sampai 4 jam. Kebanyakan nungguin. Kayak menunggu kabar darinya yang tak kunjung datang, membosankan. Ye gak? Haha #apaandah

Tapi, hasil yang bisa kalian nikmati ya sebanding deh sama usahanya. Hasilnya adalah Bluder yang garing di luar kayak kue, tapi lembut banget dan berongga di bagian dalamnya semacam roti. Bluder ini cocok banget buat ngganjel perut sambil nunggu makan siang, atau jadi temen nugas saat nunggu makan malam. 

Bluder fresh from the oven

Kemarin, gue dan mbakipar sangat puas dengan hasil Bluder yang kami buat. Lihat si adonan mentul mentul ngembang sempurnya #iniapa rasanya sungguh bahagia. Ditambah testimoni dari keluarga yang nyicipin, mereka juga bilang enak. Rasanya, bikin dari jam 10 pagi sampe sore nggak sia-sia dan nggak bikin kapok. Mudah-mudahan mbakipar mau ngajarin bikin roti atau kue-kue lain yang nggak kalah enak. 

Sebelum disobek

Setelah disobek

Gimana? Tertarik untuk mencoba?
Selamat mencoba~


14 Maret 2018

DIY Paper Flower: Bunga Kertas untuk Seserahan


Salah satu perintilan pernikahan yang butuh waktu cukup lama untuk mempersiapkannya adalah seserahan. Percaya atau enggak; mulai dari memikirkan konsep, membuat daftar kebutuhan, kroscek harga di sana-sini, mulai membeli isi seserahan, sampai akhirnya perkara membungkus seserahan itu butuh waktu total hampir satu bulan sendiri. 

Tapi, janganlah dianggap ribet ya. Karena ini momen persiapan hari bahagia, berarti nyiapinnya harus bahagia juga kan? Ya doong~

Seperti di postingan gue soal from A to Z di sini, gue kan bilang kalau seserahan pernikahannya gue bungkus dan gue hias sendiri. Salah satu hasilnya kayak gini nih:


Puas? Alhamdulillah puas banget. Entah kenapa karena semuanya handmade, rasanya jadi lebih berarti dan berkesan. Pas mau ngebongkar aja kayak eman-eman gitu.

Nah, salah satu printilan handmade yang gue buat adalah si kembang kertas atau paper flower ini. Ternyata pembuatannya nggak terlalu sulit, hasilnya juga lumayan bagus. Kalau ditanya dapet referensi dari mana….. Yaaa, dari Pinterest lah! Ehehehe.

Di bawah ini gue akan menceritakan bagaimana cara gue membuat DIY Flower Paper yang gue pakai untuk hiasan kotak seserahan. So, silakan dibaca sampai selesai ya!

Alat dan Bahan:


  1. Kertas krep warna-warni (kuning, hitam/coklat)
  2. Benang hitam
  3. Gunting
  4. Penggaris

Langkah Pengerjaan:
  1. Guntinglah kertas krep dengan 2 ukuran. Yang besar (kuning) berukuran 9x20cm, sedangkan yang kecil (hitam) berukuran 5x20cm
  2. Susun kertas krep tersebut masing-masing menjadi 5 lembar per susunan
  3. Letakkan susunan kertas krep yang kecil di atas susunan kertas krep yang besar
  4. Lipat kertas krep yang sudah disusun tadi seperti melipat kertas (dilipat bolak balik)
  5. Ikat bagian tengah lipatan kertas dengan menggunakan benang hitam
  6. Gunting bagian ujung kertas krep membentuk lengkungan keluar
  7. Lebarkan lipatan kertas krep membentuk lingkaran
  8. Tarik ke atas lembaran kertas krep satu persatu yang telah tersusun sampai membentuk bunga

Kurang lebih, tutorial yang di pinterest kayak gini nih:

credit: Pinterest | dan sini


Taraaa! Nggak susah kan? Kalau mau bunga dengan bentuk kelopak yang berbeda, bisa dilakukan dengan mengubah bentuk guntingan kertas yang berada di bagian ujung.

Bikinlah bunga yang agak banyak, kemudian susun-susun di kotak seserahan. Bisa ditambah daun sintetis atau ornamen lain. 

Oiya, flower paper ini juga bisa dibuat dengan bentuk yang besar yaa. Kalian tinggal potong kertas sesuai dengan ukuran yang lebih besar. Bisa dipakai buat dekorasi engagement, atau bridal shower, atau ulang tahun dan yang lainnya.

Proses pembuatan flower paper yang gue lakukan untuk keseluruhan kotak seserahan gue hanya membutuhkan waktu satu hari loh.

Seserahan handmade by me for myself :D



Gimana? Kalian mau coba buat juga?

Harga:
Kertas krep Rp2.500/pc 
Benang Rp1.500/pc

10 Maret 2018

My Acne Story

Pernah nggak ngerasa bete gara-gara nggak cocok sama berbagai macam kosmetik? Pernah nggak merasa putus asa karena masalah kulit wajah yang seolah nggak ada ujungnya? Kalau jawabannya pernah, berarti gue punya temen. Hehe.

Jadi gini, tipe kulit gue adalah yang sensitif dan cenderung berminyak, terutama di T zone. Ketika dulu gue SMP, ditambah hormon yang lagi naik turun, akibatnya ke wajah gue adalah kemunculan jerawat yang membandel. Tipe jerawatnya itu yang gede, dan susah banget kempesnya. Jaman segitu gue belum kenal skin care karena gue beneran cuek sekaligus nggak tau mau tanya sama siapa (dan nggak ada yang ngasihtau juga), ditambah arus informasi yang belum sederas sekarang.  Nah, kalaupun itu jerawat akhirnya bisa kempes, biasanya meninggalkan bekas yang nggak bagus di wajah. Jadilah dari jaman SMP, bagian hidung yang paling sering dihinggapi jerawat itu jadi agak nggak rata. Kalo lo tau kulit jeruk purut, nah semacam itu. Tapi ya nggak segitunya.

Dulu gue mikirnya "Yaelah emang kenapa kalo muka gue item? Jerawatan?". Dan gue melanjutkan pepanasan dengan berbagai kegiatan ekskul seperti voli, marching band dan paskibra tanpa melindungi kulit wajah gue dengan tabir surya. DAN SEKARANG GUE NYESEL BANGETTTTT :(

Pas SMA, masalah kulit wajah masih sama. Tapi lumayan ada perkembangan nih. Udah mulai kenal kosmetik, compact powder, lipgloss. Daaan karena muka udah nggak bener banget wujudnya, akhirnya gue ke dokter kulit dan dikasihlah krim siang, krim malam, sabun, toner dan lain sebagainya. Emang dasarnya gue nggak rutin menerapkan skin carenya, hasilnya juga nggak terlalu signifikan walaupun emang jumlahnya berkurang. Terus ketika gue tamat SMA dan kuliah ke Jogja, gue stop pemakaian skin carenya karena riweh kalau harus kirim-kirim krim dari Bogor ke Jogja. Akhirnya waktu itu cuma pakai facial foam aja setiap mandi dan sebelum tidur. Hasilnya? Ya jerawatan lagi.

Di semester 5, gue diantar oleh calon mertua gue (dulu, sekarang udah jadi mertua beneran) ke salah satu klinik kecantikan di Jogja. Mungkin mamah camer kasian liat muka gue yang sebenernya berpotensi untuk cantik, tapi kayaknya nggak keurus. Hahaha ya Allah T.T. Akhirnya konsultasi ke dokter spesialis kulit, tetep dikasih krim ini itu, dan ditambah dengan beberapa persyaratan tambahan. Salah satunya adalah: NGGAK BOLEH PAKAI COMPACT POWDER SETIAP HARI.

Nah, mulai sejak itu gue akrab dengan bedak bayi. Iyaaa, mungkin kulit wajah gue sensitifnya kayak pantat bayi. Mau kuliah pake bedak bayi, mau main pake bedak bayi. Dan berhubung belom jaman buat kondangan kesana kemari, akhirnya compact powder yang masih tersisa gue simpan di lemari dan tak pernah tersentuh lagi.

Gue juga pernah couter. Itu tuh yang jerawat atau milia atau fleknya kayak semacam dibakar pake alat khusus gitu dengan sebelumnya dikasih anestesi biar nggak sakit-sakit amat. Udahannya kagak boleh cuci muka pake air mentah, harus pakai AQUA dong. Buset dah, berasa tajir banget gue cuci muka pake AQUA. Wudhu juga iya pake AQUA (pas muka doang tapi). Hasil dari couter adalah, muka gue jadi lumayan halus. Cuma yaaa, karena kena debu, minyak, tetep weh ada beberapa jerawat yang balik lagi. Perawatan kayak gini emang nggak bisa sekali seumur hidup, jadi tetep harus kontinyu beberapa bulan sekali. Tapiiiii, mahal bo. Wkwk. Ya ada harga ada rupa lah ya.

Pas sabun wajah dari dokternya habis, gue mengganti dengan cuci muka pakai sabun bayi. Lumayan efektif loh ternyata, jerawat lumayan berkurang. Tapi efeknya udah cuma gitu doang. Artinya, sabun bayi nggak bikin wajah jadi glowing atau berbagai benefit lainnya. Tapi karena gue ngerasa masalah wajah paling parah adalah jerawat, ketika dia berkurang itu udah bersyukur banget. Sampai ketika salah satu temen yang gue ceritain kalau gue cuci muka pake sabun bayi ada yang bilang, "Emangnya ampuh ya pakai sabun bayi? Kan wajah kita harusnya lebih kotor, dan harus ada ekstra effort untuk bersihinnya".

Nggak persis sih, tapi kurang lebih begitu lah intinya.

Habis itu gue mikir-mikir, iya juga ya. Dan di saat yang hampir bersamaan, calon mbak ipar gue (dulu) ngenalin sama sabun walet yang warna hitam itu. Itu juga lumayan mengurangi jerawat. Tapi gue cuma satu periode pakai. Pas sabunnya kecemplung WC, gue nggak repurchase lagi. Hahaha. Terus gue kembali ke sabun bayi dan sesekali pakai facial foamnya wardah yang khusus jerawat. Does it works? Emm, nggak juga. Haha.

Source: bukalapak


Nah, beberapa hari setelah menikah, kulit wajah gue jerawatan parah. Mungkin karena saking banyaknya kosmetik yang nempel di muka, si muka kaget. Sempet nyaris sebulan jerawat tiba-tiba muncul banyak di T zone, bahkan di pipi yang biasanya nggak ada jerawat juga jadi jerawat bruntusan dan gede-gede juga. Pokoknya ngeri. Itu fase tidak-pede kesekian kali yang gue rasakan setelah gue lupa kapan terakhir kali gue merasakannya.

Akhirnya gue mulai browsing facial foam yang bisa memperbaiki wajah yang jerawatan parah ini. Dan ketemulah sabun JF Sulfur. Dari dua varian yang ada, udah gue coba semua. Gue pakai tiap mandi dan sebelum tidur. Kandungan sulfurnya bikin jerawat cepet kering. Terus gue tambahin pakai intensive acne carenya Sariayu yang ekstrak daun pegagan dan belerang. Baunya lumayan nyengat sih, udah gitu cukup boros juga. Tapi kalau calon jerawat udah mulai muncul, dibasmi pakai itu langsung hilang besokannya. Untuk bedaknya, gue masih setia dengan loose powder instead of compact powder. Sekarang gue pakai Marcks. 

Beberapa waktu lalu, gue mencoba untuk datang kondangan dengan kondisi full makeup. Nggak pakai foundation sih, cuma BB cream aja. Hasilnya, besokannya tetep muncul jerawat. Wkwk. Ampun dah. 

Ada banyak banget perubahan dan perkembangan perihal skin care yang gue pakai sejak SMP sampai sekarang dah ibu-ibu. Setelah mandi, dengan kulit wajah setengah kering, gue pakai  tonernya Emina. Habis itu pakai mousturizing creamnya Melilea. Terus ditumpuk pake bedak Marcks.

Kalau bicara hasilnya sampai detik ini. Jerawat jauuuuuh berkurang dibanding dulu. Tapi sayangnya, bekasnya masih ada. Tapi ada pelajaran berharga yang bisa gue ambil untuk mencegah biar si jerawat membandel nggak muncul berlebihan lagi. Pertama, JANGAN DIPIKIRIN! Semakin gue mikirin jerawat sebiji yang nongol di jidat, semakin betah dia. Cuek aja, sambil diam-diam tetap rutin merawat.

Kedua, bener-bener hindarin megang muka dengan tangan kosong secara langsung. Kita nggak tau kan sekotor apa tangan kita. Megangnya pakai tisu aja. Kalau gatel ya ngusap pakai tisu nya agak ditekan-tekan. Kalau ada jerawat mateng, udah mau keluar 'nasi'nya dan terpaksa harus dibersihkan, pastikan dulu tangan kita bersih. 

Ketiga, RAWATLAH WAJAH DENGAN TEKUN! Terutama sebelum tidur nih. Pengaruhnya paling gede nih, soalnya pas tidur kan badan dan kulit lagi istirahat tuh, Jadi lebih efektif. Jangan males buat menyisihkan waktu barang 5-10 menit untuk cuci muka. Kalau males atau emang nggak pake skin care harian sebelum tidur, minimal cuci muka deh. 

Keempat, rajin minum air putih dan konsumsi sayur serta buah segar. Gue termasuk orang yang jarang absen minum air putih, apalagi kalau duduk lama di depan komputer. Kalau buah yang bagus buat kulit sih biasanya gue makan apel. 

Sok idih banget gue. Padahal cuci muka sebelum tidur aja blentang-blentong :D

Kesimpulannya, ada dua faktor yang cukup berpengaruh dalam munculnya jerawat di wajah gue: PERILAKU dan KOSMETIK. Semakin banyak bahan-bahan kimia dalam kosmetik yang gue pakai, kecenderungan untuk berjerawat akan semakin tinggi. Sedangkan kalau gue pake produk bayi yang (seenggaknya) relatif lebih aman, maka kulit juga jadi lebih bersahabat. 

Nanti kalau ada perubahan yang konsisten (perubahan kok konsisten), maksudnya gue nemu cara yang bisa membuat kulit wajah jadi lebih sehat (bersih, segar dan tidak kusam), post ini akan gue update atau gue tulis di post selanjutnya.

Da~~