11 Mei 2020

Perpanjang SIM saat Covid-19

Jadi, peristiwanya sudah sebulan yang lalu, tepatnya tanggal 20 April kemarin. Udah rencana mau sharing pengalaman soal ini, tapi baru kesampaian sekarang karena salah satu temen jaman kuliah bikin status di WA nya soal informasi perpanjangan SIM saat corona dan maraknya social distancing seperti ini.



Sekedar informasi, ini adalah pengalaman pribadiku perpanjang SIM di Polres Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta saat pemberlakuan social distancing di masa pandemi Covid-19. Untuk polres atau SIM corner lainnya alurnya mungkin sama, hanya beberapa teknis bisa saja berbeda.

Informasi dari IG @satlantas_sleman seperti ini:






Menanggapi kebijakan #socialdistancing dan #physicaldistancing dalam rangka pencegahan pandemi Covid-19. .. Sesuai dengan arahan Kapolri melalui Kakorlantas maka @satlantas_sleman mengambil kebijakan dispensasi bagi perpanjangan SIM dengan ketentuan : - Habis masa berlaku SIM dari tanggal 17 Maret - 29 Mei 2020 dapat melaksanakan perpanjangan SIM setelah tanggal 29 Mei 2020 (tetap proses perpanjangan) - Khusus Orang Dalam Pengawasan (ODP) atau Suspect Covid-19 dapat melaksanakan perpanjangan setelah dinyatakan sehat dengan membawa surat keterangan sehat dari Rumah Sakit. .. Syarat perpanjang SIM : - SIM dan KTP di fotocopy rangkap 2 - Surat keterangan sehat dari dokter yang ditunjuk oleh Polri. .. #dirumahaja #socialdistancing #physicaldistancing #bersamalawancovid19 @poldajogja @rtmcditlantasdiy @polresleman @kabarsleman @humasjogja @infojogjaupdate @merapi_news @starjogjafm @ikkj_diy @diesbanyumas17 @samsatsleman @tmc_satlantas_gunungkidul @satlantas_polreskulonprogo @satlantas_bantul @satlantasjogja
A post shared by Satlantas Polres Sleman (@satlantas_sleman) on


Jadi, bagi yang masa berlaku SIM nya habis pada saat social distancing seperti saat ini masih diberi dispensasi perpanjangan sampai tanggal 29 Mei 2020. Akan tetapi, pihak satlantas Polres Sleman tetap melakukan pelayanan setiap hari kerja, tentunya dengan pembatasan-pembatasan sesuai dengan protokol pencegahan Covid-19. Ketentuan lebih lengkapnya bisa dibaca sendiri ya di akun IG nya.

Nah, berhubung tempat tinggalku deket dengan Polres Sleman, dan sebelum WFH berakhir (which is susah banget nyari waktu longgar), jadi aku memutuskan untuk perpanjang SIM 4 hari menjelang masa berlaku SIM ku habis.

***

Aku nggak tau kalau di polres/SIM corner yang lain gimana sistemnya. Tapi kalau di Polres Sleman tu udah pasti nggak bisa selesai sehari. Minimal 2 hari lah. Kenapa begitu? Baca dulu sampai selesai.

Hari pertama aku cari surat keterangan sehat dulu. Untuk Polres Sleman, surat keterangan sehat bisa didapat dengan periksa di praktik dokter depan polres. Aku kurang tau bisa di tempat lain atau enggak. Datanglah sepagi yang kamu bisa, terus ambil nomor antrian (karena ada kuotanya juga, tapi aku lupa berapa jumlahnya). Nanti mulai dipanggil jam 8 kurang lebih. Oiya, ngantrinya tetap dengan protokol pencegahan covid ya. Nggak boleh bergerombol. Syaratnya cukup fotokopi KTP-el, fotokopi SIM yg masih berlaku dan masa berlaku SIM maksimal tinggal 14 hari lagi (kalau masih lebih dari 14 hari, petugasnya nggak mau nerima dan disuruh pulang lagi).

Petugas yang meriksa juga pakai protokol pencegahan Covid. Mereka pakai APD lengkap. Dites suhu badan dan ditanya apakah sakit dan habis bepergian. Tes penglihatan, buta warna dan lain lain. Dapet surat dokter, bayar Rp. 25.000 terus pulang. Kenapa? Karena eh karena....

Untuk perpanjangan SIM di kondisi seperti ini, dalam sehari kuotanya dibatasi hanya 50 antrian agar tidak terjadi keramaian dan penumpukan orang. Di Polres Sleman, cara dapet antriannya kayak gini: kamu datang sebelum jam 6, numpuk surat dokter dan syarat-syarat di tempat yg tersedia, pulang dulu atau terserah kemana yang penting nggak ngumpul, terus nanti balik lagi nanti jam 8 pas polres buka. Karena rumahku deket, ya aku pulang dulu laah.

Setelah balik lagi jam 8, petugas akan memilih 50 antrian yang lebih dulu menumpuk persyaratan. Yang nggak dapet antrian pada hari itu harus langsung pulang. Nggak boleh berkerumun. Petugasnya akan menyarankan untuk kembali lagi setelah tanggal 29 Mei 2020.

Waktu itu aku belum tau cara dapat antriannya. Dengan PD nya aku datang jam 8 dan tanya-tanya sama orang yang ada di situ, habis itu ya jelas harus langsung pulang lagi karena nggak kebagian kuota. Jadi aku kudu ke polres dua kali. Nah, silakan survei dulu atau tanya-tanya di polres yg mau kamu datangi karena mungkin akan beda. Info dari temenku yg tanya ini, di Polres Bantul bahkan bisa kudu ambil antrian dari subuh. Wooooow~

Kalau sudah dapet antrian, yaudah berjalan seperti biasa. Pertama, bayar perpanjangan di Bank BRI yang ada di situ, Rp 75.000. Terus ambil formulir, isi formulir (bawa pulpen sendiri ya gaes. Di sana ada sih tapi kan dipake rame-rame), serahkan formulir, nunggu dipanggil buat foto, dan terakhir nunggu SIM yang sudah diperpanjang masa berlakunya selesai. Oiya, harus selalu pake masker (kecuali pas difoto) dan duduk di tempat yang tidak bertanda silang.

Waktu perpanjangan SIM kurang lebih satu jam doang kalau udah dapet antrian. Dan aku baru tau juga kalau ternyata bentuk SIM yang baru udah nggak kayak yang dulu lagi. Tapi jujur, aku lebih suka yang dulu. Wkwk.

Nah, nggak ribet kan? Gitu doang.
Kuncinya tinggal tau 'teknis' dari masing-masing tempat aja biar kebagian antrian.

Oiya, ada informasi tambahan juga dari IG @satlantas_sleman, bahwa pembuatan SIM dan perpanjangan SIM juga bisa dilakukan secara online lho!

Dan ini informasi lainnya yang berkaitan dengan pelayanan:





Bhakti Pelayanan Masyarakat Anggota Regident @satlantas_sleman hari Sabtu, 02 Mei 2020 dalam rangka Registrasi dan Identifikasi dalam bidang pelayanan : - SIM di Satpas Polres Sleman. - STNK di Samsat Induk Sleman dan Samsat Pembantu Maguwoharjo. - BPKB di Samsat Induk Sleman - SIM Corner dan SAMSAT On Line di MPP Kabupaten Sleman. - SAMDES (Samsat Desa) di Margorejo Tempel dan Pakem. - SAMSAT DRIVE THRUU di Samsat Induk Sleman. .. Jam pelayanan dalam rangka Social Distancing : - SIM di Satpas Polres Sleman : Senin - Sabtu pukul 08.00 - 10.00 wib - STNK di Samsat Induk Sleman dan Samsat Pembantu Maguwoharjo : Senin - Kamis pukul 08.00 - 12.00 wib Jumat - Sabtu pukul 08.00 - 10.30 wib - BPKB di Samsat Induk Sleman : Senin - Kamis pukul 08.00 - 11.30 wib Jumat - Sabtu pukul 08.00 - 10.00 wib - SIM Corner di MPP Kab Sleman : Senin - Jumat pukul 08.00 - 10.00 wib - SAMSAT On Line di MPP Kab Sleman : Senin - Kamis pukul 08.00 - 11.30 wib Jumat pukul 08.00 - 10.30 wib - SAMDES Tempel dan Pakem : Senin - Kamis pukul 08.00 - 11.30 wib Jumat pukul 08.00 - 10.30 wib . .. STOP PELANGGARAN STOP KECELAKAAN Keselamatan Untuk Kemanusiaan Indonesia Tertib Tahun 2020 @poldajogja @rtmcditlantasdiy @polresleman @samsatsleman @kabarsleman @jasaraharja_yogyakarta #poldadiy #polantasindonesia #satlantassleman #polisiindonesia #satlantaspolressleman #roadsafety #trafficpolice #polressleman #polri #polisi #rtmc #sleman #infosleman #infojogja #jogjainfo #satpassleman #simcorner #samsatsleman #samdes #samsatpembantumaguwo #sLemanmenginspirasi
A post shared by Satlantas Polres Sleman (@satlantas_sleman) on

Semoga informasi ini bermanfaat ya!

9 Mei 2020

Kapan Terakhir Kali Hatimu Berantakan?

Aku, hari ini.



Jadi, sejak jam 6 pagi tadi Baba dan Anak Bayik pergi. Ke rumah simbah doang sih di kabupaten sebelah. Tujuannya agar aku punya waktu istirahat di rumah karena udah beberapa hari aku kayak rada ngeluh gitu ke Baba, setiap menjelang buka puasa tuh Anak Bayik suka agak susah diatur. Padahal jam segitu aku lagi ngantuk-ngantuknya dan laper-lapernya (kalau siang Anak Bayik suka ga mau tidur), sedangkan aku momong sendirian.

Hari ini Baba kasih aku me time. Ini selalu Baba lakukan kalau aku udah mulai kelihatan jenuh dengan rutinitas harianku. Dia pasti akan ngasih aku waktu untuk menikmati kesendirianku untuk melakukan hal apapun yang aku mau.

Alhasil seharian ini aku di rumah sendirian.

Sebelum mereka berangkat, aku tuh super ngantuk karena biasanya habis subuh kan tidur lagi. Eh ini Anak Bayik ikut bangun dan nggak mau tidur lagi setelah subuh. Akhirnya Baba langsung prepare untuk ngajak Anak Bayik pergi se-pagi-itu. Emang sengaja diajak pergi pagi banget karena banyak hal; pertama, Baba harus ke sawah. Kedua, kalau siang keburu banyak orang dan panas di jalan. Setelah menerapkan protokol kesehatan untuk mencegah penularan Covid 19, mereka berangkat.

Setelah mereka berangkat, aku masuk rumah. Seketika rasa ngantukku lenyap entah kemana. Akhirnya ku niatkan hari ini mau beres-beres rumah aja. 

Aku nyuci baju, nyuci piring, beresin dapur, ganti layout kamar, beresin tempat main Anak Bayik, ganti sprei, dorong-angkat 2 kasur, geser meja, buang sampah, pindah-pindahin lemari, nyapu, ngepel. Oiya, disambi ngajar daring juga buat 6 kelas hari ini. Semuanya kelar jam setengah 1 siang. Capek? Lumayan. Tapi seneng. 

Hasilnya, dapur rapi ga ada sampah dan cucian piring. Baju kotor udah nggak numpuk lagi. Layout kamar baru, barang nggak terpakai taroh di gudang, kamar jadi lega dan suasananya baru. Lantai bersih, kinclong, wangi. Buatku yang nggak terlalu suka berantakan, ini adalah saat-saat rumah yang paling rapi sejak Anak Bayik mulai bisa jalan.


Hujan deras

Habis sholat, ternyata mendung dan hujan deres banget. Akhirnya aku istirahat, tidur siang sampai jam 4 sore. Bangun, sholat dan rapi-rapi sambil persiapan buka puasa yang ala kadarnya.

Di luar hujan masih turun.

Laptop masih nyala. Memutar beberapa buah lagu. Aku menatap layarnya.

Lagu selesai. Hening.

Rumah udah beres, sajian buka sudah siap. Tapi, kayak ada yang kurang...
Ah, ternyata rumah yang rapi ini tidak seperti biasanya. Hari-hari sebelumnya, setiap sore pasti ada Anak Bayik yang minta jalan-jalan, atau minta disuapin di depan rumah, atau mainan balok, atau sekedar merengek minta digendong. Emang sih dia cuma di rumah simbahnya, deket. Tapi hatiku ternyata bisa jadi se-berantakan-itu.

Pojok mainan yang tidak tersentuh pemiliknya

Rencananya, Anak Bayik dan Baba akan pulang sebelum magrib. Tapi hujannya sampai menjelang magrib kok belum juga reda. Biasanya Baba akan pulang dari sawah 30 menit sebelum berbuka dan masak makanan enak untuk kami buka puasa, kali ini kok belum juga kelihatan muka gantengnya batang hidungnya.

Akhirnya aku buka puasa sendirian. Biar nggak sepi-sepi banget aku sambil muter channel Youtube-nya Desta Vincent. Ah setelah hampir 2 tahun menjalani Ramadhan bertiga, hari ini aku buka puasa sendiri. Semakin dirasakan, hatiku makin berantakan. Tiap ada kendaraan lewat, aku melongok keluar jendela. Oh, bukan. Gituuu terus.

Baba sampai rumah sebelum isya. Anak Bayik kurang lebih satu jam kemudian diantar simbahnya. Ketemu aku dan langsung nodong-gentong. Selesai nodong-gentong, dia mulai menyentuh mainan-mainannya. Satu persatu dimainkan, dipindah-pindahkan. Bosan dengan mainan yang satu, ganti dengan mainan yang lain.

Kini rumah rapi itu seakan tidak bersisa. Tapi ada berantakan lain yang hilang. Hatiku terasa sudah berada di tempatnya lagi seperti semula. Mendengar suara Baba. Mendengar celoteh dan tawa Anak Bayik yang menggemaskan. Mendengar dia memanggil, "Mama... mamaaa.." sambil tangan mungilnya memberikan sebuah balok kayu mainan buatku.

Jadi seorang ibu itu memang perasaannya kadang se-aneh-itu.
24 jam dengan tugas yang sama setiap harinya. Siapa yang tak jenuh? Sungguh aku salut dengan para ibu rumah tangga yang selalu menghadapi kegiatan yang hampir itu-itu saja setiap harinya.

Selama WFH, setiap hari aku belajar menjadi ibu rumah tangga. Belajar mengelola emosi. Yah, anggapan bahwa "Nanti kalau udah gede juga nggak gitu lagi..", saat si anak "membuat permasalahan", sesungguhnya adalah hal yang tak akan pernah terwujud. Anak tumbuh dan berkembang, begitupun permasalahan yang akan ada dan kita hadapi sebagai orang tua.

Adakah yang mengalami masa-masa saat anak udah masuk jam tidur siang. Udah nodong-gentong, dikipasin, dia udah merem-merem, kita udah ikutan ngantuk, tiba-tiba ada motor knalpot racing lewat. Wrenggggggggggg. Kemudian mata yang hampir merem itu mendadak melek melotot dan nyari jendela untuk lihat 'ada paan sih nih?'? Anak nggak jadi tidur, emaknya puyeng karena udah ngantuk tapi harus bangun lagi.

Jadi, me time untuk ibu memang diperlukan. Dan sebagai suami, Baba sudah amat sangat baik dan pengertian dengan take over pengasuhan dan memberikan kesempatan istirahat buatku. Walaupun ujung-ujungnya baru ditinggal Anak Bayik beberapa jam aja udah kangen berat, tapi setelah me time ibu akan lebih fresh. Badan lebih seger karena istirahat nggak terinterupsi rengekan nodong-gentong dan siap untuk momong Anak Bayik lagi keesokan harinya.

Jadi, gapapa nih kalau hatinya berantakan?
Ya gapapa. Bentar doang inih.

27 Januari 2020

Jadi working mom atau di rumah aja?

Wah berat nih berat..

Membahas soal working mom dan stay-at-home mom memang nggak akan ada habisnya. Semua punya kelebihan dan kekurangan, semua keputusan akhir sudah pasti telah didiskusikan dengan matang bersama keluarga. Walaupun waktu bersama di rumah dengan si kecil akan berbeda, satu hal yang sama: ibu hanya ingin anaknya sehat dan bahagia. Betul tydaq?

Di postingan ini aku nggak mau bahas perbandingan working mom dan stay-at-home mom, termasuk bagaimana pola asuhnya yang kadangkala kalau dilihat di sosial media tuh kayaknya bikin para ibu jadi insekyur. "Kalo jadi working mom itu nggak bisa ngontrol pola asuh anak..", atau "Buat apa aku kuliah tinggi-tinggi kalau hanya untuk di rumah aja..". Hadeh, percaya padaku bahwa perdebatan soal itu tiada gunanya. Bikin emosi doang.

Aku cuma akan cerita tentang bagaimana aku menjalani kehidupanku sebagai seorang working mom dan juga sesekali menjadi stay-at-home mom. Tentang bagaimana realitanya, bagaimana perasaanku, dan berakhir dengan kesimpulan: mana sih yang lebih enak?

Oke, tarik nafas dulu. Mudah-mudahan ngga salah ngomong. Hehe.

Secara default, jadwal kerjaku mulai Juli 2019 sampai saat ini bisa dibilang hampir kayak ASN (walaupun aku bukan), which is berangkat pagi banget dan pulang setelah Ashar.

"Loh, kamu kan GTT, ngapain ikut jam kerja ASN?"

Ya sebenernya siapa yang mau sih? Wkwk. Sayangnya, pengaturan jadwal di tahun ajaran 2019/2020 ini memang kayaknya nggak bersahabat gitu sama aku. Selalu dapet jam ngajar pertama dan terakhir, tengahnya bolong. 36 jam pelajaran yang mesti aku ampu juga nggak bisa bikin aku pulang pas jam kosong, karena..... jauh banget ya Allah dari rumah T.T

Oiya, aku kerja 5 hari seminggu. Senin-Kamis dan Sabtu. Jum'at kosong alias howreeeee jadi stay-at-home mom!

Jadwal kerjaku berimbas pada kuantitas pertemuanku dengan Anak Bayik. Pagi dia bangun sebelum Subuh, aku gendong, ganti popok dan langsung dimomong sama Ayah atau Mbah Kakung. Aku nyiapin keperluanku sendiri. Maksimal jam 6.30 aku udah harus banget berangkat. Seharian Anak Bayik dimomong sama Mbah Kakung, Ati (ibu mertuaku) atau Ayah kalau lagi nggak ke sawah atau nggak ada jadwal ngajar. Sampai rumah jam 16.00 kadang Anak Bayik udah selesai mandi, tinggal DBF, main sampai magrib, makan malam dan dia tidur (biasanya sih tidur habis Isya).

Udah, gitu aja tiap hari.
Kadang rasanya belum puas main sama Anak Bayik, ngelihat hari ini dia punya kemampuan baru apa, makannya lahap atau enggak, snack dan buahnya habis seberapa banyak, minum yang aku siapin habis atau enggak.. Tapi ya mau gimana, keadaannya harus begitu. 

Sejujurnya, aku besar di keluarga yang perempuannya kebanyakan jadi stay-at-home mom alias mbokku dewe ki yo IRT. Jadi, aku agak kurang bisa membawa diri dan susah juga buat membiasakan diri hidup di lingkungan yang suami-istri kudu kerja, anak dijagain orang lain. Tapi ya semakin kesini aku semakin terbiasa lah.. tapi, masih belajar membiasakan diri.

Kalau udah kamis malam, ku happy banget gaes. Bukan karena malam jum'at lalu sunnah rosul (emmm...), tapi karena Jum'at aku off. Aku bisa seharian di rumah, main, nyuapin, pokoknya hari bermain bersama ibu deh kalau Jum'at tuh.

Apalagi minggu kemarin tuh kebetulan banget sempet kejadian aku salah makan dan akhirnya tengah malam aku muntah-muntah, dibawa ke IGD dan untungnya nggak sampai harus dirawat. Singkat cerita aku dapet surat dokter untuk istirahat 2 hari, which is itu hari Rabu dan Kamis. Hari Jum'at emang aku off, dan Sabtu tanggal merah Imlek. Minggu libur pula. OMG, ini liburan yang tak terencana. Hehe.

Akhirnya aku melepaskan semua beban kerjaan di minggu kemaren, dan fokus untuk istirahat dan mengganti waktu yang hilang bersama Anak Bayik.

Kemudian aku dan Suami memboyong Anak Bayik ke rumah Sleman...

Nggak tau ini emang terjadi di semua orang atau aku aja, tapi kalau kita ada deket sama ibu tuh bawaannya jadi lebih manja ngga sih? Haha. Di rumah Kalibawang tuh aku rasanya kayak nggak ngapa-ngapain karena hampir sebagian besar kerjaan dihandle ibu mertua. Even nyuci pun! (Gara-gara aku gabisa pake mesin cuci front load nih, dan kalo nyuci kudu sampai penuh).

Tapi kalau di Sleman, aku merasa hidupku jadi lebih tertata. Hahaha. Ini aku ceritain bagianku saat jadi stay-at-home mom.

Sebelum subuh bangun, nyuci piring, beresin mainan Anak Bayik, nyapu, sholat. Anak Bayik bangun, ganti popok, nyuci baju terus ngajak Anak Bayik main di depan rumah. Nyuapin Anak Bayik, terus nemenin bobok pagi. Habis Anak Bayik bangun, mandiin, ngajak main, snack time. Makan siang, bobok siang. Bangun, mandi sore, main di depan rumah, makan malam. Main sebentar, nemenin bobok habis Isya. 

Repeat.

Feels like... Ha gene aku yo ki iso nggarap gawean omah sakmono akehe. Apa? Nggak ada masak? Ya emang. Kalo masak aku bhabhay ajaaa~ Serahkan pada ahlinya (baca: Suami). Hahahaha.

Seneng banget tau rasanya bisa nemenin Anak Bayik main, jadi yang pertama tau kemampuan baru dia, ngajarin ngomong, bacain buku. Pokoknya selalu ada disampingnya, dan jadi orang pertama yang bantu ketika dia butuh bantuan.

Tapi....... ternyata kerjaan kantorku nggak bisa kepegang gaes.
Biasanya, di waktu-waktu kosong di sekolah pas aku nggak ngajar, aku bisa nyelesaikan pekerjaanku, ngoreksi, bikin soal, jobsheet atau nulis di blog kayak gini.

Kadangkala seorang stay-at-home mom mengeluhkan kondisi dimana mereka susah banget buat 'me time', karena yaa emang bener kalau jadi stay-at-home mom itu ke kamar mandi aja ditangisin. Nggak keliatan sedetik doang gara-gara beda ruangan aja dicari-cari. Lihat kondisi rumah yang begituuuu terus juga pasti bikin ibu merasa jenuh. Nah, kalau buatku waktu ketika aku harus bekerja juga kudedikasikan sebagai 'me time'. Asalkan jam pulang nggak molor dan tetep sampai rumah on time.

Jadi, menurutku mana yang lebih enak?
Pertama, somehow seorang ibu bekerja punya berbagai alasan, bisa jadi karena faktor ekonomi, atau lainnya. Kalau aku sih karena cita-citaku emang jadi guru dan biar aku juga punya penghasilan sendiri untuk tabungan (masih related ngga sih kalau ngomongin cita-cita, haha). Cuma aku tuh nggak mau yang ngoyo banget kerjanya, aku masih pengen punya waktu beberapa hari dalam seminggu untuk jadi stay-at-home mom. Jadi misal kerja 3 hari, di rumah 4 hari.

Bekerja juga bisa jadi pengembangan diri untuk si ibu. Ketemu banyak orang, banyak insight juga. Ketemu banyak anak-anak remaja beserta problematikanya. Bisa banget itu jadi bekal biar ngga salah asuh anak.

Kesimpulannya: aku bahagia dan bersyukur dengan apa yang aku jalani saat ini.
Tapi aku dan Suami sedang merencanakan sesuatu yang mudah-mudahan aja bisa jadi jalan pembuka pintu rezeki yang lain. Doakan ya om dan tante onlen :)